Pemerintah memprioritaskan teknologi insinerasi dalam proyek PSEL

id PSEL,Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik,insinerasi,lingkungan,KLH,Menteri LH,menteri lh ts

Pemerintah memprioritaskan teknologi insinerasi dalam proyek PSEL

Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq ditemui usai menyaksikan penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) antara tiga pemerintah daerah dengan Badan Usaha Pengembangan dan Pengelola (BUPP) Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan Jakarta, Selasa (21/4/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memprioritaskan teknologi insinerasi atau pembakaran dengan suhu tinggi dalam proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

"Di kota besar seperti urban atau metropolitan, sampah membutuhkan penanganan cepat. Teknologi terkini yang paling mendekati adalah teknologi insinerasi dengan kajian yang sudah proven (terbukti). Ada beberapa puluh item yang harus disepakati sebelum insinerasi dibangun di suatu tempat. Saat ini kita sedang proses lelang di tiga lokasi," kata Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq di Jakarta, Selasa.

Hanif mengemukakan, Indonesia masih memiliki timbulan sampah yang jumlahnya hampir 141–143 ribu ton per hari dengan karakteristik berbeda-beda, tergantung demografi dan lokasi. Oleh karena itu, insinerasi dipilih sebagai salah satu teknologi yang sudah terbukti lebih ramah lingkungan berdasarkan berbagai kajian dan riset.

"Teknologi insinerasi juga sudah berkembang dalam penanganan emisinya, yang mengalahkan teknologi gasifikasi. Dulu, gasifikasi dianggap lebih ramah lingkungan, contohnya di Surabaya. Namun dengan perkembangan teknologi penanganan emisi, insinerasi menjadi teknologi paling populer di dunia," ujar dia.

Pendekatan tersebut dipilih karena timbulan sampah di kota besar tidak mungkin terkejar hanya dengan membangun budaya. Saat ini, KLH telah menetapkan 31 wilayah aglomerasi yang meliputi 86 kabupaten/kota untuk proyek PSEL dengan teknologi insinerasi yang kontribusi timbulan sampahnya mencapai 40 ribu ton per hari.

"Tiga lokasi yang sudah berjalan adalah Bali, Kota Bekasi, dan aglomerasi Bogor. Percepatan proses pengadaan barang dan jasa juga sedang dilakukan. Namun, ini belum selesai. Dengan 31 aglomerasi tersebut masih tersisa hampir 100 ribu ton per hari. Maka, teknologi lain harus dibangun, seperti Refuse-Derived Fuel (RDF)," ucap Hanif.

RDF adalah teknologi pengolahan sampah dengan mengubah sampah kering bernilai kalor tinggi menjadi bahan bakar alternatif. Sampah seperti plastik, kertas, dan tekstil dipilah, dicacah, lalu dikeringkan agar mudah dibakar.

"RDF menjadi pendekatan paling mungkin untuk kota yang berdekatan dengan industri semen. Kita memiliki 23 industri semen yang diharapkan mampu menangani 132 kabupaten/kota dengan proyeksi penanganan hingga 60 ribu ton per hari," tuturnya.

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.