Disbud Kulon Progo gelar "Sigro Mentas" di Sidomulyo berdayakan masyarakat miskin

id Sigro Mentas ,Kulon Progo,Dinas Kebudayaan,Kemiskinan

Disbud Kulon Progo gelar "Sigro Mentas" di Sidomulyo berdayakan masyarakat miskin

Pentas seni Sigro Mentas di Kalurahan Sidomulyo, Kabupaten Kulon Progo. (ANTARA/HO-Humas Pemkab Kulon Progo)

Kulon Progo (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) menggelar Pementasan Wayang Wong Humor di Kalurahan Sidomulyo sebagai program inovatif Sigro Mentas (Segera Tampil, Segera Bangkit) untuk memberdayakan masyarakat miskin melalui seni.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Joko Mursito di Kulon Progo, Senin, mengatakan program Sigro Mentas difokuskan pada pembinaan kelompok kesenian di dua kelurahan yang masuk kategori miskin sebagai pilot project atau proyek percontohan.

"Tujuan utamanya adalah untuk memberdayakan masyarakat miskin melalui seni agar mampu "segera tampil dan segera bangkit" secara ekonomi. Sigro Mentas itu segera bangkit, segera tampil," kata Joko Mursito.

Ia mengatakan program pendampingan ini menyasar kelurahan miskin di Kulon Progo yang juga merupakan rintisan kelurahan budaya.

Adapun dua sasaran program pada tahun ini adalah Kalurahan Sidomulyo, dengan fokus pembinaan pada kesenian Wayang Wong Humor dan Kalurahan Giripurwo, dengan fokus pembinaan pada kesenian Ketoprak Lesung.

Wayang Wong dipilih sebagai materi pembinaan di Sidomulyo karena kelurahan tersebut memiliki sejarah di mana kesenian Wayang Wong pernah kondang (terkenal). Harapannya agar Wayang Wong ini tidak hanya tampil pada satu pergelaran saja, tapi bisa lebih sering dipentaskan di berbagai kesempatan dengan duluran dari Lurah Sidomulyo berupa aturan.

"Tujuannya adalah agar program ini dapat mengangkat potensi budaya di kelurahan sasaran, yang pada akhirnya akan menggeliatkan perekonomian masyarakat," katanya.

Agar pementasan wayang Wong Humor ini berhasil, lanjut Joko, dalam latihannya dilakukan pendampingan intensif yang melibatkan para tokoh seniman. Selain itu, Dinas Kebudayaan juga berencana untuk melakukan pendampingan lanjutan guna membentuk sentra-sentra pengrajin seperti pengrajin jaran kepang, pengrajin topeng, dan pengrajin kostum tari. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan produk asli Sidomulyo.

Joko Mursito mengatakan alokasi anggaran tambahan untuk program Sigra Mentas didapatkan menjelang akhir tahun, sehingga waktu persiapan pementasan cukup pendek. Ia berharap mendapatkan dukungan dari semua pihak.

Setelah pementasan, agenda dilanjutkan dengan dialog untuk me-review program ini, menentukan kelayakan untuk dilanjutkan, atau mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan.

"Program ini diharapkan menjadi aktivitas yang didukung oleh semua pihak dan memberikan dampak yang sangat terasa dalam proses pelatihan maupun pergelaran," katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko mendukung penuh kegiatan kebudayaan dan kesenian di daerahnya. Sektor ini sebagai kunci utama bagi Kabupaten Kulon Progo untuk mencapai cita-cita "sido mentas" atau terlepas dari kemiskinan.

Filosofis di balik ungkapan Sigro mentasbatau lek mentas, lanjut Ambar bisa diartikan sebagai dua makna yang saling berpaduan.

"Harapan kami dari Pemerintahan Kabupaten Kulon Progo, ini adalah sido mentas. Maksud saya mentas ini adalah mentas dari kemiskinan," ujar Ambar.

Ambar Purwoko menilai kegiatan budaya dan kesenian memiliki dua fungsi vital. Selain sebagai hiburan kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi daya tarik wisatawan.

"Kami mengajak masyarakat untuk mendukung kebudayaan dan kesenian yang ada di Kabupaten Kulon Progo," katanya.

Kegiatan ini didukung oleh Dana Keistimewaan atau danais DIY.

Pewarta :
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.