Logo Header Antaranews Jogja

Mencegah meluasnya paparan ideologi kekerasan pada anak

Sabtu, 10 Januari 2026 11:15 WIB
Image Print
Ilustrasi gaming. (Foto oleh Screen Post dari Unsplash)


Baca juga: Wakil Ketua MPR: Harus ada upaya komprehensif mengatasi kekerasan anak

Ideologi, seperti Neo-Nazi dan supremasi kulit putih, sejatinya merupakan istilah dan simbol yang sangat terkait dengan sejarah kekerasan rasial di Eropa dan Amerika Serikat.

Ideologi tersebut tidak hanya hadir sebagai gagasan, tetapi pernah terlembaga dan melakukan kekejaman secara struktural.

Dalam konteks ruang digital hari ini, simbol dan wacana tersebut kerap dipisahkan dari latar sejarah dan dimensi etisnya.

Konten ekstrem tampil dalam bentuk yang lebih samar, sering kali dikemas melalui estetika meme, narasi sensasional, atau diskusi komunitas yang tampak netral.

Akibatnya, anak-anak dan remaja dapat mengonsumsi simbol kekerasan, tanpa memahami konsekuensi ideologis dan historis yang melekat di dalamnya.

Arena digital bukanlah ruang yang netral. Dalam banyak kasus, ruang ini justru menjadi arena produksi dan reproduksi kekerasan simbolik.

Simbol-simbol ekstrem berfungsi sebagai floating signifier, yakni tanda yang terlepas dari makna asalnya, lalu diisi ulang oleh budaya daring, humor gelap, dan narasi komunitas yang membangun rasa kebersamaan semu.

Langkah antisipatif

Di sisi lain, temuan Densus 88 juga menegaskan tantangan baru bagi dunia pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai menilai bahwa anak-anak, saat ini hidup dalam ruang digital yang bergerak sangat cepat dan kompleks.

Tanpa pendampingan, pengawasan, serta literasi yang memadai, anak-anak rentan terpapar konten berbahaya yang tidak selalu tampak secara kasat mata.

Menanggapi temuan tersebut, Dinas Pendidikan Jawa Timur menyiapkan langkah-langkah strategis dan antisipatif untuk mencegah meluasnya paparan ideologi kekerasan pada anak, khususnya di jenjang SMA dan SMK.

Koordinasi dilakukan secara masif dengan kepala satuan pendidikan guna memperkuat sistem pencegahan sejak dini, dengan menempatkan sekolah sebagai ruang aman bagi tumbuh kembang peserta didik.

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026