Logo Header Antaranews Jogja

Prospek emas di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik 2026

Senin, 26 Januari 2026 13:45 WIB
Image Print
Petugas memperlihatkan emas lelang pada Bazar Emas Pegadaian di Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (24/1/2026). Bazar emas yang digelar PT Pegadaian itu untuk mempromosikan sekaligus mengajak masyarakat berinvestasi logam mulia termasuk emas dengan menawarkan berbagai kemudahan seperti potongan harga dan keringanan cicilan. ANTARA FOTO/Akbar Tado/nym.

Baca juga: Sabtu ini emas di Pegadaian meroket, UBS sentuh Rp2,956 juta/gr
 

Bagi pengelola dana, emas memiliki peran yang sudah lama dikenal dalam praktik investasi. Ketika pasar saham bergerak tidak menentu dan pasar obligasi tertekan oleh perubahan ekspektasi suku bunga, logam mulia ini sering dipertimbangkan sebagai penyeimbang.

Keputusan alokasi tidak selalu didorong oleh perhitungan imbal hasil semata, tetapi juga oleh kebutuhan menjaga stabilitas nilai portofolio dalam jangka menengah, terutama di tengah ketidakpastian kebijakan fiskal dan moneter di berbagai negara besar.

Di Indonesia, dinamika global tersebut cepat terasa di pasar domestik. Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan perubahan sentimen di bursa internasional kerap mempengaruhi preferensi masyarakat dalam memilih instrumen penyimpanan nilai.

Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap emas dalam bentuk perhiasan, batangan, maupun produk investasi yang ditawarkan perbankan dan lembaga keuangan menunjukkan kecenderungan meningkat, terutama pada periode ketika gejolak pasar global menguat dan volatilitas nilai tukar meningkat.

 

Kepemilikan Emas

Bank Indonesia, dalam berbagai kesempatan, menekankan pentingnya menjaga stabilitas nilai tukar dan ketahanan cadangan devisa sebagai bagian dari kerangka kebijakan makroekonomi.

Kepemilikan emas dalam cadangan resmi, meskipun porsinya tidak besar, tetap dipandang sebagai salah satu unsur yang mendukung kepercayaan pasar terhadap ketahanan eksternal perekonomian nasional.

Pendekatan ini sejalan dengan upaya menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan di tengah arus modal global yang bergerak cepat.

Memasuki awal 2026, pasar emas masih berada di bawah bayang-bayang faktor yang sama. Arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur, serta ekspektasi inflasi di negara-negara dengan porsi ekonomi terbesar terus menjadi rujukan pelaku pasar.

Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat di kawasan energi Amerika Latin, termasuk dinamika dengan Venezuela, serta isu strategis di kawasan Arktik seperti Greenland, turut menambah lapisan risiko geopolitik yang dalam beberapa bulan terakhir memperkuat kecenderungan investor global untuk kembali melirik emas sebagai aset lindung nilai.

Sejumlah lembaga riset internasional dalam laporan kuartalan mereka menilai bahwa ruang kenaikan harga emas masih ada, meskipun lajunya diperkirakan lebih terukur dibandingkan fase reli sebelumnya.

Penilaian ini mencerminkan pandangan bahwa pasar mulai memasuki tahap yang lebih matang, di mana harga emas semakin dipengaruhi oleh keseimbangan antara risiko global dan prospek pemulihan ekonomi di berbagai kawasan, termasuk negara-negara yang terdampak tekanan energi dan perlambatan perdagangan internasional.

Dalam kondisi seperti ini, pergerakan harga emas sering dibaca sebagai cerminan tingkat kehati-hatian investor terhadap arah perekonomian global.

Baca juga: Harga emas Antam pada Sabtu naik Rp7.000 menjadi Rp2,887 juta/gr

Bagi sebagian pihak, emas bukan sekadar komoditas yang diperdagangkan di bursa, melainkan penanda bagaimana pasar menilai risiko dan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi di berbagai belahan dunia.

Perubahan kecil dalam arah kebijakan atau eskalasi ketegangan geopolitik kerap langsung tercermin dalam dinamika permintaan terhadap logam mulia ini.

Perjalanan emas di awal 2026 tidak berdiri sendiri, tetapi berkelindan dengan cara negara, lembaga keuangan, dan masyarakat merespons dunia yang bergerak di tengah ketidakpastian.

Tahun 2026 yang dalam penanggalan Tiongkok dikenal sebagai Tahun Kuda Api prospek emas tetap menarik. Tentu tetap terdapat tanpa tantangan.

Tahun Kuda Api kerap diasosiasikan dengan dinamika tinggi dan perubahan cepat. Dalam satu skenario, jika ketidakpastian global berlanjut dan pertumbuhan ekonomi dunia melambat, permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai berpotensi tetap kuat.

Namun, setelah lonjakan tajam pada 2025, fase konsolidasi harga juga merupakan kemungkinan yang wajar.

Karena itu, emas sebaiknya dipahami secara proporsional. Untuk investor, emas berfungsi sebagai jangkar stabilitas, bukan sarana spekulasi jangka pendek. Sementara bagi pembuat kebijakan, pergerakan emas dapat dibaca sebagai indikator sentimen global dan kepercayaan terhadap sistem moneter.

 

 


*) Syahrir Ika adalah Peneliti Ahli Utama BRIN/Direktur PT Aneka Tambang Tbk 2003-2005.










Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Prospek emas di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik 2026



COPYRIGHT © ANTARA 2026