
Penuhi nutrisi lengkap anak untuk cegah gangguan kecerdasan

Samarinda (ANTARA) - Dokter Spesialis Anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalimantan Timur Magdalena Rusady Goey mengimbau para orang tua untuk memenuhi kebutuhan nutrisi lengkap pada anak sejak dini sebagai upaya mencegah gangguan kecerdasan.
"Nutrisi adalah zat gizi penting yang mencakup makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta mikronutrien berupa vitamin dan mineral yang berfungsi untuk mendukung pertumbuhan fisik, perbaikan sel tubuh, hingga perkembangan otak anak," ujar Magdalena di Samarinda, Selasa.
Ia menjelaskan pemberian gizi yang tepat di awal kehidupan menjadi fondasi utama karena berperan dalam pemrograman metabolisme tubuh untuk mengurangi risiko penyakit degeneratif seperti diabetes, obesitas, dan jantung di masa depan.
"Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif juga mesti dilakukan secara disiplin selama enam bulan pertama kehidupan bayi sebelum mulai mengenalkan makanan padat," katanya.
Baca juga: Pakar tekankan peran nutrisi cegah anemia remaja, Gizigrow sampaikan komitmen edukasi
Magdalena meneruskan, saat memasuki usia enam bulan, kebutuhan kalori bayi meningkat sehingga orang tua wajib memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) dengan komposisi menu lengkap, bukan menu tunggal.
Dokter spesialis anak ini menekankan agar protein hewani lebih diutamakan porsinya daripada protein nabati dalam setiap piring makan anak untuk memastikan kecukupan gizi yang dibutuhkan tubuh.
"Terkait aturan pemberian makan, jadwal makan utama sebaiknya dilakukan tiga kali sehari ditambah dua kali selingan dengan durasi maksimal 30 menit agar anak belajar disiplin dan mengenali rasa lapar," paparnya.
Metode pemberian makan yang paling disarankan adalah kombinasi antara disuapi dan belajar makan sendiri atau finger food agar asupan nutrisi yang masuk ke tubuh tetap terpantau dengan baik oleh orang tua.
Baca juga: Paparan rokok bisa sebabkan gangguan penyerapan nutrisi pada ibu hamil
Masyarakat juga diminta menghindari pemberian gula, garam, dan jus buah pada anak di bawah usia satu tahun karena jus hanya memberikan rasa kenyang palsu tanpa serat yang memadai.
"Larangan keras juga berlaku untuk pemberian madu pada bayi di bawah usia satu tahun karena berisiko tinggi menyebabkan keracunan akibat bakteri atau botulisme," ungkap Magdalena.
Ia menambahkan, penggunaan suplemen vitamin tambahan umumnya tidak diperlukan jika anak sudah mengonsumsi makanan bergizi, kecuali untuk Vitamin D, Zat Besi, dan Vitamin A yang memang direkomendasikan.
"Selain faktor asupan makanan, pola tidur yang cukup terutama pada malam hari sangat membantu kerja hormon pertumbuhan agar berjalan maksimal saat fase tidur nyenyak di sekitar pukul 11 malam," demikian Magdalena.
Pewarta : Ahmad Rifandi
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
