Psikiater: Puasa Ramadhan kesempatan meregulasi emosi

id meregulasi emosi, ramadhan, kesehatan jiwa, psikiater, kota batam, kepri

Psikiater: Puasa Ramadhan kesempatan meregulasi emosi

Psikiater yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Internasional Batam dr Revit Jayanti S, Sp.K. menjelaskan cara meregulasi emosi saat Ramadhan dalam acara bincang santai di Kota Batam, Kepri, Minggu (15/2/2026). ANTARA/Laily Rahmawaty

Batam (ANTARA) - Puasa Ramadhan selama satu bulan menjadi kesempatan positif bagi setiap orang yang menjalankan untuk meregulasi emosi, kata psikiater yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Internasional Batam dr Revit Jayanti S, Sp.K.

“Kenapa Bulan Ramadhan itu terasa menenangkan, karena Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan makna bagi umat Muslim di seluruh dunia,” katanya di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Minggu.

Ia menjelaskan esensi Ramadhan bukan sekedar waktu untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan memperdalam ibadah, meningkatkan kualitas diri, serta meraih berbagai keutamaan yang telah ditetapkan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Secara neurologi, kata dia, saat berpuasa, tubuh mengalami beberapa perubahan, yakni gula darah menurun ketika tidak makan beberapa jam, dengan efek mudah lelah dan sensitif secara emosi.

Selain itu, kortisal (hormon stres) bisa meningkat di awal karena perubahan pola tidur dan makan, serta proses autophagy (pembersih sel).

“Puasa membantu proses 'pembersihan' sel, termasuk otak,” ujarnya.

Baca juga: Pasien dengan gangguan jantung aman berpuasa selama kondisi terkontrol

Pembersihan ini, katanya, mendukung perlindungan dan perbaikan sel saraf serta dapat meningkat brain-derived neurothrophic factor (BDNF) yang berperan dalam fungsi kognitif dan regulasi emosi.

Akan tetapi, katanya, kebanyakan terjadi saat Ramadhan, penjualan makanan meningkat. Banyak berdiri pasar Ramadhan menjual aneka takjil sehingga saat puasa masyarakat menjadi konsumtif.

Padahal, ujarnya, jika melihat esensi puasa sebagai menahan lapar dan haus seharusnya perilaku konsumtif tidak terjadi.

“Mungkin diawal-awal Ramadhan tubuh kita merasakan lemah, letih, dan mudah capek, karena perubahan tadi. Tapi tubuh ini memiliki kemampuan beradaptasi. Setelah lewat tiga hari itu, pasti sudah 'enjoy' menjalaninya,” kata Revit yang dosen perguruan tinggi swasta di Kota Batam itu.

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.