Pacuan kuda jadi olahraga paling popular di Takengon, mengalahkan sepak bola.
Seribu kali sayang, saat tim ANTARA meliput ke Takengon tak ada acara pacuan kuda yang berjalan.
Kini kota di atas awan ini masih dalam proses revitalisasi pasca terdampak bencana banjir Sumatera yang terjadi pada 25-30 November lalu.
Data Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh mencatat jumlah warga di Kabupaten Aceh Tengah yang terdampak banjir mencapai 11.657 jiwa yang tersebar di satu kecamatan dan 26 kampung. Kerusakan rumah akibat bencana ini dilaporkan mencapai 4.426 rumah.
Tim ANTARA pun bergegas menuju kampung yang terdampak bencana Sumatera. Jaraknya dari Takengon memakan waktu sekira 30 menit dengan akses jalanan berkelok-kelok dan sebagian masih tertimbun endapan lumpur.
Sampailah di kampung Toweren Uken, salah satu tempat yang paling terdampak di Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.
Kampung luluh lantak
Kampung Toweren Uken terletak di selatan Danau Lut Tawar. Secara administratif kampung ini masuk dalam Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.
Banjir bandang pada tiga bulan lalu membawa gelondongan kayu yang menerjang sebagian wilayah kampung Toweren, Toweren Uken, Toweren Antara, dan Toweren Toa.
Masyarakat penghuni empat kampung ini pun harus mengungsi ke daerah yang jauh lebih aman karena selain membawa gelondongan kayu, banjir juga menyeret endapan lumpur.
Di Toweren Uken, sebagian rumah telah hancur lebur dan tidak dapat didiami kembali. Sebagian rumah lainnya terendam lumpur setinggi 1 hingga 1,5 meter.
Baca juga: Pemkab Aceh Barat terima Rp1 miliar dari Presiden untuk bantuan daging
Musibah yang menimpa masyarakat tidak mematahkan asa mereka untuk lepas dari keterpurukan. Perlahan, pasca bencana, sejumlah masyarakat mencoba kembali ke rumah dan membersihkan endapan lumpur atau menyingkirkan bekas kayu gelondongan.
Salah seorang penyintas bencana, Martinansyah, mengungkapkan bahwa kondisi kala itu sangatlah mencekam, kala gelondongan kayu yang terseret air dari gunung turun menghantam hunian warga di kampung.
"Sebagian orang panik karena terkejut dengan datangnya gelondongan kayu dari gunung sampai kampung ini. Sekarang adalah trauma-trauma sedikit orang masyarakat kampung ini," terang nya.
Penyintas bencana lain, Khadijah mengaku baru kembali ke kediaman pribadinya dalam tiga hari terakhir ini karena mau menyambut bulan suci Ramadhan.
Khadijah kini hanya bisa mengelus dada. Meski rumahnya tak menjadi puing bangunan yang ambruk, perkebunan yang menjadi satu-satunya mata pencaharian selama ini telah luluh lantak tertimpa longsor.
Perempuan berusia 60 tahun ini menyebut bahwa musibah ini merupakan ujian dari Allah. "Tinggal diamlah mau gimana lagi kondisinya (begini)," ujarnya.
Baca juga: 30 Taruna/i STPN ikuti KKN Pertanahan untuk Restorasi Arsip Pascabencana Hidrometeorologi di Aceh-Sumut
Di Aceh Tengah kini terdapat total 12.638 lahan kopi, 4.100 hektare lahan cabai, 2.787 hektare sawah, serta 38 hektare area perikanan terdampak bencana banjir.
Baik Khadijah ataupun Martinansyah kini harus memutar otak demi bisa kembali bertani dan berkebun. Saat ini mereka masih belum memperoleh pekerjaan alternatif.
Meski demikian, Khadijah dan Martinansyah tetap akan melakukan tradisi meugang, tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Aceh untuk menyambut hari-hari besar suci umat Islam, yakni sebelum bulan Ramadhan, sebelum Idul Fitri, dan sebelum Idul Adha.
Dalam kondisi yang belum tercukupi, Khadijah dan Martinansyah akan tetap menjalankan tradisi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
Menghadapi bulan Ramadhan ini, Kepala Kampung Toweren Uken Sirwan mengkonfirmasi bahwa akan ada bantuan daging dari presiden untuk masyarakat yang terdampak.
"Rabu besok, masyarakat meugang di rumah sendiri. Ini alhamdulillah mungkin ada dari presiden mengasih daging ke desa-desa, alhamdulillah. Mungkin ini minimalnya mungkin ada yang dapat setengah kilo, mungkin alhamdulillah ini pun bantuan dari kabupaten, provinsi," kata Sirwan.
Baca juga: Polri usut pidana lingkungan hidup dan pembalakan liar di Aceh Tamiang
Prabowo Subianto telah mentransfer bantuan pembelian sapi tradisi meugang menyambut bulan suci Ramadhan untuk masyarakat terdampak bencana Aceh dengan nilai lebih dari Rp72,7 miliar.
Bantuan tersebut disalurkan melalui mekanisme transfer dana dari Presiden melalui Sekretariat Presiden, dan langsung ke 19 pemerintah kabupaten/kota pada Selasa (10/2), senilai Rp72.750.000.000.
Suasana pasca bencana masih tampak terasa pilu di pinggiran Danau Lut Tawar. Tapi sukacita menyambut bulan Ramadhan coba ditumbuhkan oleh masyarakat penyintas bencana sebagaimana mereka melalui bulan suci di tahun-tahun sebelumnya.
Tidak ada hiruk pikuk. Namun, kebersamaan dan kekhidmatan serta tetap menjaga tradisi, tumbuh di wilayah berjuluk negeri Antara ini.
Baca juga: Lebih dari 105.000 warga masih mengungsi akibat bencana di Sumatera
Baca juga: Masuk fase pemulihan, pemerintah mempercepat huntara untuk warga di Aceh
