Jakarta (ANTARA) - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani mengatakan mantan Wakil Presiden Try Sutrisno hingga akhir hayatnya tetap memperjuangkan agar amandemen UUD 1945 yang kelima terjadi.
"Beliau pernah ngomong kepada kami pada saat lebaran tahun yang lalu, beliau ingin sebelum meninggal ada amandemen Undang-Undang Dasar 45 yang kelima dan beliau ingin itu dilakukan sebelum beliau wafat," kata Ahmad Muzani usai menghadiri sholat jenazah yang digelari di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Senin.
Menurut Muzani, permintaan itu merupakan bukti bahwa Try Sutrisno di usia senjanya selalu ingin memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara.
Melalui amandemen UUD 1945 ke lima, kata Muzani, Try Sutrisno meyakini Indonesia akan menjadi negara yang lebih kuat dan kompak.
"Beliau ingin agar amandemen itu dilakukan untuk menjaga persatuan, untuk menjaga kebersamaan dan menjamin kelangsungan Indonesia ke depan yang lebih baik," jelas Muzani.
Namun demikian hingga akhir hayat Try Sutrisno, amandemen UUD 1945 kelima tidak kunjung terjadi. Walau demikian, legislator tetap berupaya melakukan berbagai hal agar amandemen tersebut terjadi.
"Sampai sekarang apa yang diharapkan, apa yang dipikirkan oleh almarhum oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat terus dilakukan dengan belajar kajian-kajian lebih lanjut," jelas Muzani.
Wapres Ke-6 RI Try Sutrisno wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada Senin pagi sekitar pukul 07.00 WIB.
Informasi mengenai wafatnya Try Sutrisno disampaikan melalui pesan berantai yang dikirimkan atas nama keluarga dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) serta dibenarkan beberapa pejabat di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Dalam informasi tersebut, jenazah Try Sutrisno akan dimandikan di RSPAD. Kemudian dibawa ke rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Try Sutrisno perjuangkan amandemen UUD 45 ke-5 hingga akhir hayat
