Pertanian regeneratif untuk hadapi iklim ekstrem

id Pertanian regeneratif,iklim ekstrem,el nino,la nina,surplus beras,sektor pertanian Oleh Dr. Destika Cahyana, SP., M.Sc.*)

Pertanian regeneratif untuk hadapi iklim ekstrem

Petani membajak sawahnya dengan traktor tangan di Desa Porame, Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (20/6/2024). Kementerian Pertanian mengantisipasi darurat pangan dengan menggerakkan penambahan areal tanam (PAT) padi pada sawah tadah hujan, memberikan bantuan mesin pompa air, irigasi pompa, traktor, handsprayer, dan benih padi serta mendorong pertanaman padi gogo. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/nym.

Jakarta (ANTARA) - Dua pekan ini Indonesia memasuki masa transisi dari fenomena cuaca La Nina menuju El Nino. Di sebagian besar wilayah Indonesia, La Nina umumnya ditandai dengan kemarau basah, sementara El Nino ditandai kemarau kering.

Di belahan dunia lain, tanda-tanda tersebut dapat saja terjadi sebaliknya.

Pada masa transisi ini suhu tinggi mencapai 35 derajat celcius pada siang hari hingga sore hari mulai terasa di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) meskipun kemudian diikuti hujan ringan hingga deras menjelang hari gelap.

Pada 20 Maret 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan melaporkan suhu maksimum harian di beberapa stasiun cuaca dan iklim di seputar Jakarta, Banten, hingga Lampung melampaui 35 derajat celcius dengan kisaran 35,2-35,7 derajat celcius.

Suhu ini menunjukkan kondisi cuaca panas masih cukup dominan di sejumlah wilayah. Bahkan, pada 13 Maret 2026 suhu maksimum harian di Jawa Barat pernah mencapai 37,2 derajat celcius.

Tentu suhu tinggi tersebut membuat suasana menjadi kurang nyaman. Namun, suka tidak suka kondisi tersebut harus dihadapi karena suhu tinggi akan menjadi terasa normal pada hari-hari ke depan.

Bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan serta terpapar matahari langsung tentu mesti selalu menyediakan air minum agar tidak mengalami dehidrasi.


Siasat pertanian

Dampak perubahan cuaca dirasakan lebih pada sektor pertanian. Saat fenomena La Nina tahun lalu, sektor pertanian, khususnya komoditi padi, mendapat keuntungan karena air menjadi lebih tersedia hampir sepanjang tahun. Hasilnya, Indonesia dapat surplus beras meskipun di beberapa wilayah terjadi banjir.

Namun, fenomena El Nino yang akan dihadapi tentu berbeda. Indonesia membutuhkan siasat agar sektor pertanian khususnya komoditi padi dapat tetap bertahan.

Di masa transisi yang masih mendapat hujan, siasat yang harus ditempuh adalah memanen air hujan sebanyak mungkin. Para petani di Madura umumnya menggali cekungan di tengah lahan kemudian dilapisi terpal untuk menampung air.

Panen air hujan juga dapat dilakukan dengan menyekat saluran-saluran air di tepi lahan agar tidak langsung mengalir ke sungai kecil, sungai besar, lalu hilang ke lautan. Tentu strategi ini hanya dapat dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kebanjiran jika volume air berlebih di saat hujan.

Baca juga: Komunitas Pertanian Sleman berkolaborasi bagikan takjil gratis kepada pengguna jalan

Siasat yang juga tidak kalah penting yaitu mengembalikan biomassa (jerami maupun gulma) ke lahan sebagai sumber bahan organik tanah.

Sebelum menjadi karbon organik tanah, biomassa dapat menjadi mulsa alami yang melindungi lahan dari penguapan (evaporasi) berlebihan.

Seiring waktu biomassa tersebut melapuk menjadi karbon organik tanah yang perannya juga penting di dalam tanah, yaitu membantu tanah memegang air agar tidak mudah kehilangan air.

Kedua siasat itu perlu mendapat dukungan besar dari pemerintah pusat dan daerah melalui para penyuluh pertanian di lapangan, termasuk aparat TNI dan Kepolisian yang saat ini juga digerakkan pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan (food security).

Pada konteks ini peran pemerintah level kecamatan, desa, hingga rukun tetangga menjadi penting.

Di Sukoharjo, Jawa Tengah, ketahanan pangan dapat terwujud karena kolaborasi pemerintah hingga level terendah dengan kelompok tani bahkan dengan institusi keagamaan sebagai medium membangkitkan kesadaran sekaligus untuk mobilisasi positif.


Pertanian regeneratif

Di luar siasat tersebut, di masa perubahan iklim yang lambat laun menjadi normal, sudah saatnya Indonesia menggeser paradigma dari pertanian konvensional menjadi pertanian regeneratif.

Pertanian regeneratif bertujuan merevitalisasi tanah dan lahan dengan tetap memberikan manfaat optimal bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial di masyarakat luas.

Tujuan tersebut dijalankan dengan beragam praktik, seperti meminimalkan tanah yang tersingkap sehingga tanah tetap terlindungi, mengintegrasikan pertanian tanaman dengan ternak, meningkatkan keanekaragaman hayati ekosistem, menjaga zona perakaran tetap hidup di dalam tanah sepanjang tahun, dan meminimalkan penggunaan bahan kimia sintetis seperti herbisida dan pupuk.

Baca juga: Kementan dorong petani memanfaatkan varietas padi adaptif menghadapi kemarau

Dalam konteks budidaya padi yang umumnya digenangi kembali setelah masa bera (dibiarkan tidak ditanami), pertanian padi regeneratif kerap diidentikkan dengan praktik alternate wetting and drying (AWD).

Pada praktik ini sawah yang lazimnya digenangi terus menerus hingga menjelang panen, hanya digenangi secara berkala sehingga lebih hemat air. Praktik ini dapat diterapkan dua minggu setelah bibit padi dipindahkan ke sawah.

Lahan sawah dibiarkan kering hingga mencapai level tertentu, misalnya 15 cm di bawah permukaan tanah. Ketika mencapai batas tersebut lahan sawah digenangi kembali hingga tinggi air 3-5 cm di atas permukaan tanah.

Proses ini dilakukan secara terus-menerus kecuali selama fase berbunga ketika lahan padi sangat sensitif terhadap kondisi kering.

Pemantauan kelembapan tanah dilakukan dengan memasang pipa pengukur air berupa paralon sepanjang 30 cm dengan lubang-lubang yang menutupi setengah tinggi pipa. Paralon kemudian ditancapkan di lahan sawah untuk memantau tingkat air di lapangan.


Ramah lingkungan

Teknik AWD juga ramah lingkungan karena sebetulnya lahan sawah yang selalu tergenang melepaskan gas metan. Gas tersebut dihasilkan dari dekomposisi bahan organik oleh bakteri metanogen alias bakteri penghasil metana.

Bakteri tersebut bekerja pada kondisi anaerobik (tanpa oksigen). Teknik AWD memungkinkan lahan mengering sehingga oksigen masuk ke dalam tanah dan proses anaerobik terhenti.

Sebaliknya, proses pengeringan meningkatkan populasi dan aktivitas bakteri metanotrof yang membutuhkan oksigen.

Pada proses aerobik gas yang dihasilkan berupa karbon dioksida (CO2) yang lebih rendah dampak negatifnya dibandingkan gas metana. Teknik AWD dapat mengurangi emisi metana sebesar 20-70 persen.

Pengeringan teratur juga menghemat air irigasi hingga 30 persen tanpa mengurangi hasil panen ketika dibandingkan dengan metode konvensional.

Bahkan pada beberapa kasus teknik AWD dapat meningkatkan hasil karena pertumbuhan dan perkembangan akar meningkat. Petani dapat memperoleh laba lebih tinggi karena hasil lebih tinggi sementara biaya untuk memasok air lebih rendah.

Terakhir, bagi komoditas padi sawah, maka sumber air tetap menjadi kebutuhan utama yang tidak dapat terhindarkan. Ketika sumber air irigasi reguler, dari waduk, defisit karena kemarau ekstrim, maka diperlukan jurus terakhir memasok air.

Baca juga: Pemkab: Stok pupuk bersubsidi di Gunungkidul mencapai 36.539 ton

Baca juga: Kementan percepat rehabilitasi irigasi tersier perkuat produksi pangan

Jurus terakhir itu adalah memastikan pompa air yang terhubung dengan sumber air terdekat tersedia di lahan beserta energi penggeraknya yaitu listrik atau bahan bakar minyak.

Pada konteks ini pemerintah yang memang sedang giat melakukan pompanisasi dapat terus memastikan agar program ini semakin luas di lapangan agar pertanian padi tetap tangguh di masa La Nina maupun El Nino.


*) Dr. Destika Cahyana, SP., M.Sc adalah Peneliti di Pusat Riset Tanaman Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).









Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pertanian regeneratif untuk hadapi iklim ekstrem


COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.