Pada proses aerobik gas yang dihasilkan berupa karbon dioksida (CO2) yang lebih rendah dampak negatifnya dibandingkan gas metana. Teknik AWD dapat mengurangi emisi metana sebesar 20-70 persen.
Pengeringan teratur juga menghemat air irigasi hingga 30 persen tanpa mengurangi hasil panen ketika dibandingkan dengan metode konvensional.
Bahkan pada beberapa kasus teknik AWD dapat meningkatkan hasil karena pertumbuhan dan perkembangan akar meningkat. Petani dapat memperoleh laba lebih tinggi karena hasil lebih tinggi sementara biaya untuk memasok air lebih rendah.
Terakhir, bagi komoditas padi sawah, maka sumber air tetap menjadi kebutuhan utama yang tidak dapat terhindarkan. Ketika sumber air irigasi reguler, dari waduk, defisit karena kemarau ekstrim, maka diperlukan jurus terakhir memasok air.
Baca juga: Pemkab: Stok pupuk bersubsidi di Gunungkidul mencapai 36.539 ton
Baca juga: Kementan percepat rehabilitasi irigasi tersier perkuat produksi pangan
Jurus terakhir itu adalah memastikan pompa air yang terhubung dengan sumber air terdekat tersedia di lahan beserta energi penggeraknya yaitu listrik atau bahan bakar minyak.
Pada konteks ini pemerintah yang memang sedang giat melakukan pompanisasi dapat terus memastikan agar program ini semakin luas di lapangan agar pertanian padi tetap tangguh di masa La Nina maupun El Nino.
*) Dr. Destika Cahyana, SP., M.Sc adalah Peneliti di Pusat Riset Tanaman Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pertanian regeneratif untuk hadapi iklim ekstrem
