Siasat yang juga tidak kalah penting yaitu mengembalikan biomassa (jerami maupun gulma) ke lahan sebagai sumber bahan organik tanah.
Sebelum menjadi karbon organik tanah, biomassa dapat menjadi mulsa alami yang melindungi lahan dari penguapan (evaporasi) berlebihan.
Seiring waktu biomassa tersebut melapuk menjadi karbon organik tanah yang perannya juga penting di dalam tanah, yaitu membantu tanah memegang air agar tidak mudah kehilangan air.
Kedua siasat itu perlu mendapat dukungan besar dari pemerintah pusat dan daerah melalui para penyuluh pertanian di lapangan, termasuk aparat TNI dan Kepolisian yang saat ini juga digerakkan pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan (food security).
Pada konteks ini peran pemerintah level kecamatan, desa, hingga rukun tetangga menjadi penting.
Di Sukoharjo, Jawa Tengah, ketahanan pangan dapat terwujud karena kolaborasi pemerintah hingga level terendah dengan kelompok tani bahkan dengan institusi keagamaan sebagai medium membangkitkan kesadaran sekaligus untuk mobilisasi positif.
Pertanian regeneratif
Di luar siasat tersebut, di masa perubahan iklim yang lambat laun menjadi normal, sudah saatnya Indonesia menggeser paradigma dari pertanian konvensional menjadi pertanian regeneratif.
Pertanian regeneratif bertujuan merevitalisasi tanah dan lahan dengan tetap memberikan manfaat optimal bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial di masyarakat luas.
Tujuan tersebut dijalankan dengan beragam praktik, seperti meminimalkan tanah yang tersingkap sehingga tanah tetap terlindungi, mengintegrasikan pertanian tanaman dengan ternak, meningkatkan keanekaragaman hayati ekosistem, menjaga zona perakaran tetap hidup di dalam tanah sepanjang tahun, dan meminimalkan penggunaan bahan kimia sintetis seperti herbisida dan pupuk.
Baca juga: Kementan dorong petani memanfaatkan varietas padi adaptif menghadapi kemarau
Dalam konteks budidaya padi yang umumnya digenangi kembali setelah masa bera (dibiarkan tidak ditanami), pertanian padi regeneratif kerap diidentikkan dengan praktik alternate wetting and drying (AWD).
Pada praktik ini sawah yang lazimnya digenangi terus menerus hingga menjelang panen, hanya digenangi secara berkala sehingga lebih hemat air. Praktik ini dapat diterapkan dua minggu setelah bibit padi dipindahkan ke sawah.
Lahan sawah dibiarkan kering hingga mencapai level tertentu, misalnya 15 cm di bawah permukaan tanah. Ketika mencapai batas tersebut lahan sawah digenangi kembali hingga tinggi air 3-5 cm di atas permukaan tanah.
Proses ini dilakukan secara terus-menerus kecuali selama fase berbunga ketika lahan padi sangat sensitif terhadap kondisi kering.
Pemantauan kelembapan tanah dilakukan dengan memasang pipa pengukur air berupa paralon sepanjang 30 cm dengan lubang-lubang yang menutupi setengah tinggi pipa. Paralon kemudian ditancapkan di lahan sawah untuk memantau tingkat air di lapangan.
Ramah lingkungan
Teknik AWD juga ramah lingkungan karena sebetulnya lahan sawah yang selalu tergenang melepaskan gas metan. Gas tersebut dihasilkan dari dekomposisi bahan organik oleh bakteri metanogen alias bakteri penghasil metana.
Bakteri tersebut bekerja pada kondisi anaerobik (tanpa oksigen). Teknik AWD memungkinkan lahan mengering sehingga oksigen masuk ke dalam tanah dan proses anaerobik terhenti.
Sebaliknya, proses pengeringan meningkatkan populasi dan aktivitas bakteri metanotrof yang membutuhkan oksigen.
