Logo Header Antaranews Jogja

Efisiensi anggaran di antara realitas dan kebutuhan ruang fiskal

Selasa, 7 April 2026 06:57 WIB
Image Print
Sejumlah pekerja berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengimbau perusahaan swasta, BUMN, dan BUMD menerapkan Work From Home (WFH) satu hari dalam seminggu sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. ANTARA FOTO/Salma Talita/dr/rwa.

Pengalaman Indonesia pada 2022 menunjukkan bahwa lonjakan harga energi mampu mendorong belanja subsidi dan kompensasi melampaui Rp500 triliun (Kemenkeu, 2023). Selain itu, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah beban subsidi sekitar Rp3–4 triliun (Kemenkeu, 2022). Tekanan ini tidak hanya memperbesar defisit, tetapi juga mengurangi fleksibilitas fiskal dalam mendanai berbagai program prioritas.

Di sisi lain, tekanan eksternal juga datang dari kebijakan moneter global. International Monetary Fund (IMF, 2025) menyebutkan bahwa suku bunga tinggi di negara maju meningkatkan risiko capital outflow dari negara berkembang, yang pada akhirnya mendorong kenaikan biaya utang pemerintah. Kombinasi tekanan energi dan finansial tersebut secara simultan mempersempit ruang fiskal nasional.

Efisiensi Kinerja

Dalam menghadapi tekanan tersebut, efisiensi anggaran menjadi langkah yang tidak terhindarkan. Namun, efisiensi tidak semata dimaknai sebagai pengurangan belanja, melainkan sebagai upaya meningkatkan kualitas penggunaan anggaran agar lebih produktif dan berdampak nyata.

Kebijakan Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) menjadi salah satu contoh efisiensi operasional yang mulai diterapkan. Studi McKinsey & Company (2023) menunjukkan bahwa penerapan pola kerja fleksibel berbasis digital dapat menurunkan biaya operasional hingga 20 persen serta meningkatkan produktivitas sebesar 10–15 persen apabila didukung sistem yang memadai. Temuan ini menunjukkan bahwa efisiensi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kinerja.

Namun demikian, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, 2024) mengingatkan bahwa pemotongan anggaran tanpa reformasi struktural berisiko menurunkan kualitas layanan publik. Dalam konteks Indonesia, tantangan tersebut muncul karena struktur belanja masih didominasi belanja rutin yang relatif rigid.

Karena itu, efisiensi yang efektif perlu diarahkan pada perbaikan kualitas belanja, antara lain melalui digitalisasi layanan publik, integrasi program, serta penguatan belanja produktif. Asian Development Bank (ADB, 2024) mencatat bahwa belanja infrastruktur memiliki multiplier effect hingga 1,5–2 kali terhadap PDB, sehingga realokasi anggaran ke sektor ini berpotensi meningkatkan efektivitas fiskal secara signifikan.

Ketahanan Fiskal

Ruang fiskal merupakan elemen kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Di tengah ketidakpastian global, ruang fiskal menentukan kemampuan pemerintah merespons krisis tanpa mengganggu stabilitas keuangan negara.

Meskipun rasio utang Indonesia masih relatif aman, tekanan terhadap ruang fiskal terus meningkat seiring kebutuhan belanja yang semakin besar. World Bank (2024) mencatat bahwa negara berkembang dengan ruang fiskal terbatas cenderung lebih rentan terhadap guncangan eksternal, terutama ketika masih bergantung pada subsidi energi dalam skala besar.

Pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa reformasi fiskal menjadi kunci dalam memperluas ruang fiskal. Arab Saudi melakukan diversifikasi ekonomi dan reformasi perpajakan pascakrisis minyak 2014, sementara Uni Emirat Arab menekan biaya birokrasi melalui digitalisasi layanan publik. Mesir juga berhasil mengurangi beban fiskal lewat reformasi subsidi energi secara bertahap.



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026