
Eks Komisaris KAI nilai kecelakaan KA di Bekasi bukan soal human error

Jakarta (ANTARA) - Mantan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Riza Primadi menilai kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat tidak semata disebabkan oleh kelalaian individu (human error).
"Human error itu siapa? Masinis? Rangkaian itu perlu jarak minimal 500 meteran jika dengan kecepatan hanya 60 km/jam," kata Riza saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Riza menilai penyebab kecelakaan tidak bisa dilihat secara sederhana. Ia menjelaskan bahwa rangkaian kereta api jarak jauh (KAJJ) memiliki bobot besar dan membutuhkan jarak pengereman yang panjang.
Dia juga menilai masinis telah berupaya melakukan pengereman. Hal itu dapat dilihat dari dampak tabrakan yang tidak menghancurkan seluruh rangkaian.
“Jika nggak ngerem bisa lebih dari dua sampai tiga kereta KRL yang bakal diseruduk,” ujarnya.
Maka itu, dia menegaskan, kecelakaan ini lebih mencerminkan persoalan sistem operasional dan infrastruktur dibanding kesalahan individu di lapangan.
Menurut Riza, secara operasional mencampur perjalanan kereta api jarak jauh (KAJJ) dan KRL dalam satu jalur berpotensi tinggi menimbulkan kecelakaan. Perbedaan pola berhenti dan kecepatan menjadi faktor krusial yang tidak bisa diabaikan.
“Pada prinsipnya secara operasional perjalanan KA dengan mencampur dua jenis KA yang berbeda (KAJJ dan KRL) sangat berpotensi terjadinya KKA,” ucapnya.
Ia menjelaskan, kereta Argo Bromo Anggrek (ABA) yang melaju dari Gambir menuju Cirebon memiliki kecepatan tinggi dan hanya berhenti di stasiun tertentu, berbeda dengan KRL yang berhenti hampir di setiap stasiun.
Menurut dia, kondisi ini membuat potensi “kesalip” tidak terhindarkan. Maka, kecelakaan ini dinilainya merupakan bentuk kegagalan sistemik.
Sementara, pengamat transportasi, Ki Darmaningtyas menilai penerapan teknologi sensor berbasis GPS menjadi langkah penting untuk mencegah kecelakaan kereta api.
"Gunakan teknologi Intelligent Transportation System (ITS) berbasis GPS untuk meningkatkan keselamatan operasional kereta," kata Darmaningtyas.
Ia menjelaskan, teknologi tersebut memungkinkan masinis mengetahui kondisi jalur di depan, termasuk adanya kereta lain atau gangguan.
“Kalau semua sarana PT KAI itu dilengkapi dengan GPS yang bisa mendeteksi satu atau dua kilo ke depan itu ada gangguan apa, itu bisa meminimalisir kecelakaan,” ujarnya.
Darmaningtyas mencontohkan kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek, yang menurutnya dapat diminimalkan jika teknologi tersebut tersedia.
Ia menilai sistem tersebut lebih efektif dibanding pengereman mendadak yang berisiko bagi keselamatan perjalanan.
“Kalau mengerem dadakan kan berbahaya juga untuk kereta api itu,” ujarnya.
Dengan kombinasi penyelesaian DDT dan penerapan teknologi GPS, pihaknya optimistis risiko kecelakaan kereta dapat ditekan secara signifikan.
Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah mengambil keterangan 31 orang saksi untuk mengungkap insiden kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4).
Pewarta : Luthfia Miranda Putri
Editor:
Eka Arifa Rusqiyati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
