
Kapal kemanusiaan, borgol plastik, ujian diplomasi Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Semalaman, drone-drone itu berputar di atas armada. Para relawan di atas dek melihatnya, tapi tidak bisa berbuat banyak. Pagi harinya, dua kapal perang Israel muncul di cakrawala, menurunkan sekoci-sekoci yang langsung melaju kencang memotong jalur kapal-kapal sipil itu.
Itulah gambaran yang disampaikan relawan WNI Herman Budiyanto via video conference, malam 18 Mei 2026, saat ia masih terapung di Mediterania, berbicara, sebelum kontak terputus.
Global Sumud Flotilla 2.0 membawa lebih dari 54 kapal sipil, ratusan aktivis, jurnalis, dan tenaga medis dari puluhan negara. Muatan mereka: susu formula, obat-obatan, dan makanan, dengan tujuan Gaza, yang sudah lebih dari dua tahun terkunci blokade laut Israel. Hal yang mereka temui di perairan internasional, sekitar 250 mil laut dari pantai Gaza, adalah pasukan komando bersenjata lengkap.
Di antara lebih dari 430 peserta yang akhirnya ditahan, sembilan adalah warga negara Indonesia, lima aktivis dari Global Peace Convoy Indonesia dan empat jurnalis, termasuk dua wartawan Republika dan seorang jurnalis TV Tempo.
Peristiwa pencegatan itu berlangsung bertahap selama beberapa hari. Gelombang pertama intersepsi terjadi 18 Mei, disusul gelombang berikutnya hingga 20 Mei. Kapal-kapal sipil digiring menuju Pelabuhan Ashdod di selatan Israel. Para relawan dipindahkan paksa ke kapal-kapal militer Israel, lalu dimasukkan ke dalam kontainer, tepatnya empat kontainer di dua kapal besar, yang difungsikan sebagai sel tahanan darurat.
Apa yang terjadi di dalam kontainer itu kemudian diceritakan sendiri oleh para korban, ketika kembali ke Indonesia. Aktivis Hendro Prasetyo mengisahkan bahwa penyiksaan dimulai sejak momen pertama mereka naik ke kapal Israel. Dipukul, ditendang, disetrum. Ia menegaskan perlakuan itu tidak hanya dialami dirinya, semua orang di sana mengalaminya, tua muda, laki-laki perempuan.
Baca juga: Relawan flotilla Gaza ungkap yang dialami saat ditahan Israel
Relawan lain, Rahendro Herubowo, menggambarkan momen saat mereka ditelungkupkan dan air dialirkan ke tubuh mereka, prosedur yang dalam konteks interogasi adalah kondisi yang mengkondisikan penyetruman.
Konfirmasi resmi datang dari jalur pemerintah sendiri. Konsul Jenderal RI di Istanbul Darianto Harsono, saat menyambut kesembilan WNI yang baru dibebaskan, menyatakan bahwa selama tiga, hingga empat hari penahanan, mereka mengalami kekerasan fisik. Menteri Luar Negeri Sugiono kemudian mengecam keras, menyebut tindakan Israel sebagai pelanggaran hukum internasional dan prinsip kemanusiaan.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menegaskan bahwa perlakuan yang dilaporkan, pemukulan, penyetruman, mengikat tangan dengan zip ties dalam waktu lama, memenuhi definisi penyiksaan, berdasarkan Konvensi PBB Menentang Penyiksaan (UNCAT).
Dari luar Indonesia, laporan yang datang lebih berat lagi. Aktivis Belgia Arno Meyne menyebut sejumlah peserta mengalami patah tulang dan trauma kepala. Seorang dokter asal Australia menggambarkan kondisi para tahanan yang dibiarkan kelaparan dan kehausan. "Kami diperlakukan lebih buruk dari hewan, karena hewan pun masih diberi air," katanya.
Di tengah situasi penahanan itu, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir memilih tampil di media sosial. Pada 20 Mei, ia mengunggah video di akun X yang memperlihatkan ratusan aktivis berlutut berjajar dengan tangan terikat ke belakang, kepala menunduk menyentuh lantai, sementara lagu kebangsaan Israel diputar. Ben-Gvir berjalan melewati mereka, sambil membawa bendera Israel besar. Caption unggahannya: "Selamat Datang di Israel."
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
