Logo Header Antaranews Jogja

BNN: Kampus harus menjadi benteng pertahanan utama infiltrasi narkotika

Senin, 1 Juni 2026 21:46 WIB
Image Print
Kepala BNN RI Komjen Pol. Suyudi Ario Seto dalam seminar nasional di Universitas Mercu Buana, Jakarta, Selasa (26/5/2026). ANTARA/HO-BNN RI

Jakarta (ANTARA) - Badan Narkotika Nasional (BNN) RI menegaskan kampus memiliki posisi strategis sebagai “laboratorium peradaban” sebagai benteng pertahanan utama dalam menghadapi infiltrasi narkotika.

"Kelompok usia produktif dan akademisi menjadi sasaran empuk yang paling rentan terhadap ancaman ini. Pada rentang usia 15–24 tahun (usia pelajar dan mahasiswa), angka prevalensi bahkan mencapai 2,53 persen," ucap Kepala BNN RI Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dalam keterangan di Jakarta, Senin.

Hal itu disampaikan Seto dalam seminar nasional bertajuk Agent of Change Against Drugs: Peran Mahasiswa dalam Menjaga Masa Depan Bangsa, di Universitas Mercu Buana, Jakarta, Selasa (26/5.

Ia menyebutkan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia yang kini telah menyentuh 2,11 persen atau mencakup sekitar 4,15 juta jiwa.

Dikatakan bahwa narkotika kini bergerak lebih senyap melalui media sosial, transaksi digital, hingga tersamarkan dalam produk gaya hidup modern.

Ia menyebut salah satu fenomena mengerikan saat ini berupa penyalahgunaan rokok elektrik atau vape sebagai media untuk menyelundupkan zat narkotika, seperti ganja sintetis, metamfetamina, hingga obat bius etomidate.

Menanggapi ancaman zat baru (New Psychoactive Substances/NPS) tersebut, BNN terus memperkuat pembuktian berbasis ilmiah (scientific crime investigation) serta mendorong regulasi ketat, seperti diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025 yang resmi menetapkan etomidate sebagai narkotika golongan 2 sejak akhir tahun lalu.

Untuk itu, menghadapi momentum bonus demografi (2025–2045), Suyudi mengingatkan agar ledakan usia produktif tidak berubah menjadi bencana demografi akibat rusaknya kualitas sumber daya manusia oleh narkotika.

Oleh karena itu, ia menitipkan lima peran strategis bagi mahasiswa untuk diimplementasikan secara nyata dalam gerakan Kampus Bersinar (Bersih Narkotika), yakni penggerak literasi, penjaga lingkungan pertemanan, penggerak kegiatan positif, agen kontra-narasi digital, dan mitra advokasi kebijakan kampus.

Dirinya menyebutkan tahun 2045 mungkin terasa masih jauh, namun waktu bagi sejarah bangsa sangatlah singkat.

BNN menegaskan visi besar Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah terwujud tanpa adanya generasi muda yang bersih dari penyalahgunaan narkotika.

Dengan demikian, kata dia, mahasiswa Indonesia akan memegang peran penting sebagai pimpinan perusahaan, pejabat publik, hingga penggerak ekonomi.

"Jangan korbankan masa depan besar itu demi tekanan pergaulan atau gaya hidup semu,” katanya.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BNN ungkap peran kampus untuk hadapi infiltrasi narkotika



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026