Logo Header Antaranews Jogja

Gejala keracunan pada anak yang perlu diwaspadai

Jumat, 11 September 2026 21:32 WIB
Image Print
Santri yang diduga mengalami keracunan makanan mendapatkan perawatan medis di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (2/9/2026). ANTARA FOTO/Umarul Faruq/kye/am.

Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan terdapat sejumlah gejala yang patut orang tua waspadai ketika anak mengalami keracunan makanan.

"Jangan menunda ke fasilitas kesehatan karena menunggu ramuan penawar racun bekerja. Keterlambatan datang ke fasilitas kesehatan lebih berbahaya daripada jenis kuman penyebab," kata Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI DR. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K) dalam diskusi media di Jakarta, Jumat.

Yogi menyebut gejala yang lazim ditemui bila anak keracunan adalah timbulnya rasa mual dan muntah, nyeri perut, buang air besar (BAB) cair atau BAB berdarah.

Terdapat pula gejala yang tidak khas dan perlu diwaspadai seperti demam, nyeri kepala atau pusing, pandangan kabur, kelemahan anggota gerak dan kesemutan yang perlu segera mendapatkan penanganan dari tenaga medis.

Pada sebagian besar kasus, Yogi menyebut anak-anak menunjukkan tanda dehidrasi seperti mulut kering, kehausan terus menerus, pusing, berkemih lebih jarang, warna air kemih pekat dan lemas.

Ia menyampaikan ada tiga tanda bahaya yang tidak boleh dilewatkan orang tua. Pertama, jika anak mengalami diare berdarah disertai demam ringan atau tanpa demam.

Bahayanya bukan pada hari pertama, melainkan hari ke-5 sampai ke-10 karena anak dapat mengidap anemia, trombosit turun dan gangguan ginjal akut.

Kondisi ini bisa dicurigai akibat dari bakteri E.Coli penghasil toksin Shiga.

Tanda lainnya adalah bayi lemas dengan sembelit yang baru muncul. Orang tua dapat mencurigai botulisme pada bayi. Urutannya sangat khas yakni sembelit, isapan bayi jadi melemah, tangisan berubah, kelopak mata menurun dan lema menyeluruh dari atas ke bawah tubuh.

"Kalau ini terjadi mohon hubungi rujukan segera, jangan menunggu hasil pemeriksaan tinja," kata dokter lulusan Universitas Indonesia itu.

Bila anak sakit berkepanjangan atau pejamu berisiko tinggi, curigai adanya penularan Listeria atau Cyclospora. Listeria menurutnya dapat mengancam bayi baru lahir dan anak dengan daya tahan yang menurun.

Cyclospora menyebabkan diare cair sampai berminggu-minggu.

Menurutnya, bila anak mengalami muntah terus menerus, buang air besar berdarah, diare berlangsung lebih dari tiga hari, demam tinggi, sulit dibangunkan atau tampak bingung, kejang, dehidrasi dan mengalami kelemahan anggota gerak perlu segera mendapatkan rujukan.

Termasuk pada bayi berusia di bawah tiga bulan yang mengalami demam.

Lebih lanjut Yogi menjelaskan waktu yang tepat untuk orang tua mencurigai bahwa penyakit yang anak derita akibat keracunan adalah jika penyakit muncul secara berkelompok.

Penyakit muncul bersamaan pada orang-orang yang berbagi makanan, minuman atau tempat yang sama.

"Ini petunjuk tunggal paling kuat," ujarnya.

Berikutnya adalah adanya paparan berisiko tinggi, yang dapat terjadi selama proses pengelolaan daging atau unggas yang kurang matang, susu tanpa pasteurisasi, makanan laut mentah, air sumur atau air banjir, susu formula bubuk, madu pada bayi di bawah 12 bulan.

Orang tua perlu juga memperhatikan riwayat perjalanan atau musim yang sedang terjadi. Dia mencontohkan perjalanan ke daerah dengan keamanan pangan dan air yang kurang terjamin atau adanya patogen yang memiliki pola musiman dapat menjadi pemicu keracunan.

Hal selanjutnya yakni memperhatikan selang waktu yang cocok. Jarak antara makan dan munculnya gejala sesuai masa inkubasi patogen tertentu, ini yang membuat penelusuran menu dapat dipertanggungjawabkan.

"Kedekatan waktu adalah petunjuk, bukan bukti. Menyimpulkan penyebab terlalu dini justru menutup diagnosis lain yang sebenarnya bisa diobati," katanya.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Gejala keracunan pada anak yang perlu diwaspadai



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026