Wagub DIY: petani tebu perlu jalin kemitraan
Rabu, 16 Januari 2013 20:57 WIB
petani lahan tebu (antarasumsel.com)
Jogja (ANTARA Jogja) - Kelompok petani tebu perlu menjalin kemitraan dengan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesejahteraan, kata Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Paku Alam IX.
"Saya berharap kelompok petani tebu jangan patah semangat untuk melakukan kemitraan yang lebih baik khususnya dengan pabrik gula dan perguruan tinggi," katanya pada pertemuan dengan kelompok petani tebu di Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu.
Menurut dia kemitraan itu dapat dilakukan antara kelompok petani tebu di DIY dengan Pabrik Gula (PG) Madukismo dan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) sehingga kesejahteraan para petani akan terus meningkat.
"Untuk menciptakan petani tebu yang baik dan dapat meningkatkan taraf hidupnya, pembinaan dan pemberdayaan perlu terus dilakukan agar dapat mengembangkan perkebunan tebu," katanya.
Ketua Kelompok Petani "Ngudi Rejeki" Sriyanto mengatakan kelompok tersebut beranggotakan 15 orang dengan garapan lahan perkebunan mencapai 25 hektare tanah kas desa dan tanah milik pribadi dari anggota kelompok.
Menurut dia Kelompok Petani `Ngudi Rejeki` menjalin kerja sama dengan PG Madukismo. Pihak pabrik memberikan bantuan pinjaman modal sebesar Rp10 juta hingga Rp15 juta per hektare dalam satu musim tanam dan teknik pembayaran dengan cara memotong hasil saat panen tebu.
"Saat ini kelompok `Ngudi Rejeki` di Desa Klenggukan, Kecamatan Kalasan, dapat menghasilkan Rp35 juta per hektare dalam satu musim panen," kata Kepala Desa Klenggukan itu.
Ketua Kelompok Petani Desa Sambiroto "Rotan Lestari" Gito Sudarno mengatakan kelompok tersebut mengelola perkebunan tebu seluas 1,5 hektare milik PG Madukismo dengan cara menyewa.
"Kelompok `Rotan Lestari` menyewa Rp5 juta per tahun. Hal itu merupakan langkah awal dan baru tahap uji coba sehingga tebu belum dipanen. Oleh karena itu kami belum dapat mengkalkulasikan hasil yang diperoleh," katanya
(L.B015)
"Saya berharap kelompok petani tebu jangan patah semangat untuk melakukan kemitraan yang lebih baik khususnya dengan pabrik gula dan perguruan tinggi," katanya pada pertemuan dengan kelompok petani tebu di Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu.
Menurut dia kemitraan itu dapat dilakukan antara kelompok petani tebu di DIY dengan Pabrik Gula (PG) Madukismo dan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) sehingga kesejahteraan para petani akan terus meningkat.
"Untuk menciptakan petani tebu yang baik dan dapat meningkatkan taraf hidupnya, pembinaan dan pemberdayaan perlu terus dilakukan agar dapat mengembangkan perkebunan tebu," katanya.
Ketua Kelompok Petani "Ngudi Rejeki" Sriyanto mengatakan kelompok tersebut beranggotakan 15 orang dengan garapan lahan perkebunan mencapai 25 hektare tanah kas desa dan tanah milik pribadi dari anggota kelompok.
Menurut dia Kelompok Petani `Ngudi Rejeki` menjalin kerja sama dengan PG Madukismo. Pihak pabrik memberikan bantuan pinjaman modal sebesar Rp10 juta hingga Rp15 juta per hektare dalam satu musim tanam dan teknik pembayaran dengan cara memotong hasil saat panen tebu.
"Saat ini kelompok `Ngudi Rejeki` di Desa Klenggukan, Kecamatan Kalasan, dapat menghasilkan Rp35 juta per hektare dalam satu musim panen," kata Kepala Desa Klenggukan itu.
Ketua Kelompok Petani Desa Sambiroto "Rotan Lestari" Gito Sudarno mengatakan kelompok tersebut mengelola perkebunan tebu seluas 1,5 hektare milik PG Madukismo dengan cara menyewa.
"Kelompok `Rotan Lestari` menyewa Rp5 juta per tahun. Hal itu merupakan langkah awal dan baru tahap uji coba sehingga tebu belum dipanen. Oleh karena itu kami belum dapat mengkalkulasikan hasil yang diperoleh," katanya
(L.B015)
Pewarta :
Editor : Heru Jarot Cahyono
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
FTGN berharap pemerintah hapus sistem bagi hasil pembelian tebu petani
13 September 2019 3:13 WIB, 2019
Pabrik Gula Rendeng "uri-uri" tradisi "temanten tebu" tandai musim giling
21 May 2019 17:05 WIB, 2019