Bantul (Antara Jogja) - PT Pertamina menyatakan pemasangan alat pengendalian bahan bakar minyak bersubsidi berupa radio-frequency identification atau RFID di stasiun pengisian bahan bakar umum di wilayah Yogyakarta kemungkinan pada 2014.

"Pemasangan alat tersebut saat ini masih dalam uji coba di SPBU di wilayah Jakarta, sehingga untuk daerah termasuk di Yogyakarta masih tahun depan," kata Sales Excetutif Pertamina Daerah Istimewa Yogyakarta-Jawa Tengah Fadiah Rahmawati, Minggu.

Oleh karena itu, menurut dia, kemungkinan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya pemasangan alat pengendalian BBM bersubsidi tersebut paling cepat pada Januari 2014, karena setelah di Jakarta, baru kemudian Jabodetabek.

"Yang jelas, nantinya ada sosialisasi terlebih dahulu dari pemerintah melalui PT Inti (PT Industri Telekomunikasi Indonesia) yang ditunjuk. Itu juga nanti tergantung bagaimana hasil uji coba, jika uji coba tidak berhasil, kemungkinan tidak jadi," katanya.

Ia mengatakan alat RFID merupakan sistem monitor dan pengendalian (SMP) BBM bersubsidi. Selain dipasang di SPBU, juga dipasang di kendaraan bermotor, untuk memantau penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran.

"Yang dipasangi alat ini pada nozel BBM bersubsidi, jadi apabila kendaraan sudah mengisi di SPBU tersebut, maka tidak dapat membeli di SPBU lain, atau harus membeli nonsubsidi. Patokannya pada pembatasan konsumsi BBM bersubsidi per hari," katanya.

Meski demikian, kata dia, pihaknya belum bisa menjelaskan secara detail mengenai hal tersebut, karena saat ini masih membahas pemasangan alat pengendalian BBM ini, yang juga perlu dipasang di kendaraan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul Sulistyanto mengatakan pengendalian BBM bersubsidi dengan alat tersebut sesuai instruksi dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

"Ada surat dari Kemendagri agar di SPBU dipasang alat pengendalian, untuk memantau penyaluran BBM pascakenaikan harga, jadi kami juga mohon ada masukan dan arahan dari Pertamina," katanya.

Menurut dia, arahan tersebut termasuk agar diberikan pelatihan kepada setiap pengelola SPBU supaya bisa menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang paham untuk pengoperasian alat ini.

"Ini yang kadang-kadang kita lupa, kalau dari SPBU juga harus disiapkan petugas yang mumpuni, jika alat ini dipasang," katanya, seraya menambahkan di Kabupaten Bantul terdapat 24 SPBU.

(KR-HRI)