Bantul bersihkan saluran irigasi peringati Hari Air
Selasa, 24 Maret 2015 13:24 WIB
Jaringan irigasi (Foto antaranews.com)
Bantul (Antara) - Petani yang tergabung dalam Gerakan Irigasi Bersih Kabupaten Bantul, Derah Istimewa Yogyakarta, berencana melakukan kegiatan pembersihan saluran irigasi dalam memperingati Hari Air Dunia 2015 (22/3).
"Pembersihan saluran irigasi akan dipusatkan di daerah irigasi Merdiko Kiri, Desa Timbulharjo, oleh petani dibantu masyarakat, Kodim dan mahasiswa pencinta alam UGM pada 26 Maret," kata Ketua Gerakan Irigasi Bersih (GIB) Merti Tirto Amartani Bantul, Sunardi Wiyono, Selasa.
Menurut dia, kegiatan pembersihan saluran irigasi akan dilakukan karena kondisi irigasi di Bantul hingga kini masih memprihatinkan, sebab sering dipenuhi beragam sampah rumah tangga terutama popok bayi atau pampers.
Ia mengatakan di satu daerah irigasi saja, saat pembersihan dari pagi hingga sore petani bisa mengangkat sedikitnya 90 buah popok bayi ditambah sampah lainnya seperti plastik, ranting pohon, bantal bahkan kasur.
"Padahal di Bantul ada sebanyak 40 daerah irigasi sehingga bisa dibayangkan berapa total sampah yang kami angkat saat pembersihan, sampah-sampah ini kemudian kami kumpulkan untuk dibakar," katanya.
Ketua GIB Bantul yang akrab disapa Mbah Nardi ini memperkirakan, sampah-sampah yang terdapat di saluran irigasi pertanian tersebut berasal dari perumahan di wilayah Bantul yang tidak memiliki tempat pembuangan sampah sendiri.
Selain itu, kata dia, sampah di saluran irigasi juga merupakan kiriman dari daerah lain seperti Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta mengingat lokasi geografis Bantul yang merupakan daerah hilir atau paling selatan di DIY.
"Volume sampah ini sudah jauh berkurang dari sebelumnya, karena sebelum ada GIB yang beranggotakan 40 Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air se-Bantul dua tahun terakhir, popok yang mengalir di tiap daerah irigasi mencapai 150 buah," katanya.
Ia mengatakan keberadaan sampah-sampah yang menyumbat irigasi itu berdampak pada penurunan kuantitas air, sehingga harapannya melalui pembersihan saluran irigasi mampu meminimalisir kehilangan air dari bendung.
"Sebelum ada GIB, petani kehilangan air sekitar 50 persen dari bendung, kemudian tahun pertama GIB mampu meminimalisir kehilangan menjadi 30 persen, serta tahun kedua ini kembali berkurang menjadi 20 persen," katanya.
(KR-HRI)
"Pembersihan saluran irigasi akan dipusatkan di daerah irigasi Merdiko Kiri, Desa Timbulharjo, oleh petani dibantu masyarakat, Kodim dan mahasiswa pencinta alam UGM pada 26 Maret," kata Ketua Gerakan Irigasi Bersih (GIB) Merti Tirto Amartani Bantul, Sunardi Wiyono, Selasa.
Menurut dia, kegiatan pembersihan saluran irigasi akan dilakukan karena kondisi irigasi di Bantul hingga kini masih memprihatinkan, sebab sering dipenuhi beragam sampah rumah tangga terutama popok bayi atau pampers.
Ia mengatakan di satu daerah irigasi saja, saat pembersihan dari pagi hingga sore petani bisa mengangkat sedikitnya 90 buah popok bayi ditambah sampah lainnya seperti plastik, ranting pohon, bantal bahkan kasur.
"Padahal di Bantul ada sebanyak 40 daerah irigasi sehingga bisa dibayangkan berapa total sampah yang kami angkat saat pembersihan, sampah-sampah ini kemudian kami kumpulkan untuk dibakar," katanya.
Ketua GIB Bantul yang akrab disapa Mbah Nardi ini memperkirakan, sampah-sampah yang terdapat di saluran irigasi pertanian tersebut berasal dari perumahan di wilayah Bantul yang tidak memiliki tempat pembuangan sampah sendiri.
Selain itu, kata dia, sampah di saluran irigasi juga merupakan kiriman dari daerah lain seperti Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta mengingat lokasi geografis Bantul yang merupakan daerah hilir atau paling selatan di DIY.
"Volume sampah ini sudah jauh berkurang dari sebelumnya, karena sebelum ada GIB yang beranggotakan 40 Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air se-Bantul dua tahun terakhir, popok yang mengalir di tiap daerah irigasi mencapai 150 buah," katanya.
Ia mengatakan keberadaan sampah-sampah yang menyumbat irigasi itu berdampak pada penurunan kuantitas air, sehingga harapannya melalui pembersihan saluran irigasi mampu meminimalisir kehilangan air dari bendung.
"Sebelum ada GIB, petani kehilangan air sekitar 50 persen dari bendung, kemudian tahun pertama GIB mampu meminimalisir kehilangan menjadi 30 persen, serta tahun kedua ini kembali berkurang menjadi 20 persen," katanya.
(KR-HRI)
Pewarta : Oleh Heri Sidik
Editor : Hery Sidik
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Titiek Soeharto resmikan irigasi tersier di Kembang tingkatkan produksi padi
09 October 2025 7:58 WIB