Wamenag : Pesparawi memberi sumbangsih besar kerukunan antarumat beragama
Selasa, 21 Juni 2022 4:55 WIB
Pembukaan Pesparawi Nasional XIII di Candi Prambanan, Senin (20/06) malam. (ANTARA/Luqman Hakim)
Yogyakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Agama RI Zainut Tauhid Sa'adi menilai Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) yang digelar setiap tiga tahun sekali memberi sumbangsih besar bagi pengembangan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.
"Dalam konteks masyarakat majemuk, Pesparawi yang diselenggarakan secara bergantian memberikan sumbangsih besar dalam menunjukkan rasa cinta, nasionalisme, dan mengembangkan kerukunan hidup antarumat beragama di Indonesia," kata Zainut Tauhid saat membuka Pesparawi Nasional XIII di Candi Prambanan, Yogyakarta, Senin (20/1) malam.
Menurut Zainut, penyelenggaraan Pesparawi Nasional XIII di Candi Prambanan yang merupakan candi terbesar Umat Hindu di Indonesia juga sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada dinding pemisah antarumat beragama.
Sebaliknya, menurut dia, dengan cara itu justru terbangun jembatan yang menghubungkan antarumat beragama dengan dilandasi sikap saling menghormati dan saling memuliakan.
"Tepatlah jika Pesparawi disebut sebagai salah satu implementasi moderasi beragama karena dalam Pesparawi sekat-sekat dan dinding-dinding pemisah dikesampingkan dan diganti dengan tali persaudaraan," ujar dia.
Moderasi beragama, lanjut Zainut, merupakan sebuah langkah besar dalam menumbuhkan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
"Melalui moderasi beragama diharapkan trilogi kerukunan umat beragama dapat terwujud yaitu kerukunan internumat beragama, kerukunan antarumat beragama, dan kerukunan antarumat beragama dengan pemerintah," ujar dia.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan paduan suara tak sekadar tentang indah merdua suara.
Lebih dari itu, menurut dia, diperlukan keselarasan dan kesadaran untuk saling mengisi demi mencapai performa terbaiknya.
"Apabila dimaknai secara filsafati, paduan suara selaras dengan ajaran moral khas Yogyakarta, yaitu 'sawiji greget, sengguh, ora mingkuh'. Kearifan lokal ini lahir dari buah pikir Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang juga peletak dasar Kasultanan Ngayogyakarta," kata dia.
Sultan berharap kehadiran 8.144 peserta Pesparawi Nasional XIII yang berasal dari 34 provinsi akan memancarkan energi positif dalam bingkai sportifitas dan saling mengapresiasi.
"Dengan harapan, agar para peserta bisa lebih mengenal nilai budaya dan kearifan lokal Yogyakarta. Semogalah pula, para peserta masih sempat menghirup suasana Yogyakarta dengan serba kesahajaannya, di tengah-tengah senyum ramah masyarakat, khasanah wisata, dan budaya yang melingkupinya," kata Ngarsa Dalem sapaan Sultan HB X.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Wamenag : Pesparawi beri sumbangsih besar kerukunan antarumat beragama
"Dalam konteks masyarakat majemuk, Pesparawi yang diselenggarakan secara bergantian memberikan sumbangsih besar dalam menunjukkan rasa cinta, nasionalisme, dan mengembangkan kerukunan hidup antarumat beragama di Indonesia," kata Zainut Tauhid saat membuka Pesparawi Nasional XIII di Candi Prambanan, Yogyakarta, Senin (20/1) malam.
Menurut Zainut, penyelenggaraan Pesparawi Nasional XIII di Candi Prambanan yang merupakan candi terbesar Umat Hindu di Indonesia juga sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada dinding pemisah antarumat beragama.
Sebaliknya, menurut dia, dengan cara itu justru terbangun jembatan yang menghubungkan antarumat beragama dengan dilandasi sikap saling menghormati dan saling memuliakan.
"Tepatlah jika Pesparawi disebut sebagai salah satu implementasi moderasi beragama karena dalam Pesparawi sekat-sekat dan dinding-dinding pemisah dikesampingkan dan diganti dengan tali persaudaraan," ujar dia.
Moderasi beragama, lanjut Zainut, merupakan sebuah langkah besar dalam menumbuhkan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
"Melalui moderasi beragama diharapkan trilogi kerukunan umat beragama dapat terwujud yaitu kerukunan internumat beragama, kerukunan antarumat beragama, dan kerukunan antarumat beragama dengan pemerintah," ujar dia.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan paduan suara tak sekadar tentang indah merdua suara.
Lebih dari itu, menurut dia, diperlukan keselarasan dan kesadaran untuk saling mengisi demi mencapai performa terbaiknya.
"Apabila dimaknai secara filsafati, paduan suara selaras dengan ajaran moral khas Yogyakarta, yaitu 'sawiji greget, sengguh, ora mingkuh'. Kearifan lokal ini lahir dari buah pikir Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang juga peletak dasar Kasultanan Ngayogyakarta," kata dia.
Sultan berharap kehadiran 8.144 peserta Pesparawi Nasional XIII yang berasal dari 34 provinsi akan memancarkan energi positif dalam bingkai sportifitas dan saling mengapresiasi.
"Dengan harapan, agar para peserta bisa lebih mengenal nilai budaya dan kearifan lokal Yogyakarta. Semogalah pula, para peserta masih sempat menghirup suasana Yogyakarta dengan serba kesahajaannya, di tengah-tengah senyum ramah masyarakat, khasanah wisata, dan budaya yang melingkupinya," kata Ngarsa Dalem sapaan Sultan HB X.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Wamenag : Pesparawi beri sumbangsih besar kerukunan antarumat beragama
Pewarta : Luqman Hakim
Editor : Herry Soebanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Buka Olimpiade PAI 2025, Wamenag harapkan siswa sekolah lebih berkarakter
01 December 2025 12:36 WIB
Wamenag kecam penyebar teror Pesawat Saudi Airlines yang bawa jamaah haji Indonesia
18 June 2025 6:05 WIB
Wamenag ajak masyarakat manfaatkan cek kesehatan gratis, Ini cara daftarnya
10 February 2025 15:58 WIB, 2025
Wamenag-Mendiktisaintek telah perjuangkan siswa berprestasi yang terkendala SNBP
08 February 2025 12:39 WIB, 2025
Mendikdasmen sebut libur sekolah selama Ramadhan belum ada pembahasannya
31 December 2024 15:18 WIB, 2024
Wamenag tegaskan lima kader NU temui Presiden Israel bukan atas nama pemerintah
16 July 2024 14:05 WIB, 2024