TK gratis di pelosok Gunungkidul didirikan Bripka Heri Prasetyo, ini kisahnya
Rabu, 21 Juni 2023 7:17 WIB
Anggota Subbid Provos Bidpropam Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sekaligus pendiri TK Bumi Damai Indonesia, Bripka Heri Prasetyo bermain bersama murid TK tersebut di Dusun Krambil, Desa Girisekar, Kec. Panggang, Kab. Gunungkidul, DIY, Selasa (20/6/2023). (ANTARA/Fath Putra Mulya)
Yogyakarta (ANTARA) - “Selamat datang, Bapak. Selamat datang, Bapak. Selamat datang, kami ucapkan,” demikian dendang para murid TK Bumi Damai Indonesia menyambut kedatangan Bripka Heri Prasetyo, sang pendiri sekolah gratis itu.
Terik Matahari tak menghapuskan senyum para murid menyambut Bripka Heri. Ia kemudian menyalami para murid, diikuti oleh rombongan Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Polri yang turut hadir menyaksikan aktivitas Bripka Heri di pelosok Gunungkidul, DIY, Selasa.
Lima murid perempuan lantas kompak menari selamat datang. Disusul pembacaan puisi oleh seorang murid pria dan nyanyian lagu-lagu wajib nasional setelahnya. Bripka Heri dan rombongan Divpropam Polri tersenyum melihat unjuk kebolehan para murid.
Tepatnya di Dusun Krambil, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), TK Bumi Damai Indonesia berdiri dengan mengontrak di sebuah rumah warga.
Murid-murid yang bersekolah di tempat itu tidak dibebani biaya apa pun, mulai dari seragam hingga peralatan belajar disediakan secara cuma-cuma. Di bangunan yang dikelilingi pohon rindang itu, mereka bersekolah, bermain, dan bersenda gurau dengan gratis. TK Bumi Damai Indonesia, Dusun Krambil, Desa Girisekar, Kec. Panggang, Kab. Gunungkidul, DIY, Selasa (20/6/2023). (ANTARA/Fath Putra Mulya)
Panggilan hati
Adalah Bripka Heri, anggota Subbid Provos Bidpropam Polda DIY, sosok di balik sekolah yang mulai aktif beroperasi sejak 2020 tersebut. Bripka Heri menceritakan, pendirian TK Bumi Damai Indonesia berawal dari panggilan hati beberapa pihak.
Bermula dari warga sekitar Dusun Krambil yang meminta Bripka Heri mendirikan taman kanak-kanak di daerah mereka. Ketika itu, pria yang lahir pada 1987 tersebut tengah aktif blusukan membagikan sembako ke pelosok-pelosok Gunungkidul, daerah kelahirannya.
Mendapat permintaan itu, Bripka Heri kemudian menyurvei lokasi yang dimaksud warga. Dari sana, ia mendapati bahwa di sekitar Dusun Krambil memang tidak ada TK. Kalau pun ada, lokasinya jauh, sehingga anak-anak biasanya langsung masuk ke sekolah dasar (SD), tanpa mengenal pembelajaran awal di tingkat taman kanak-kanak.
Dia kemudian melihat latar belakang dari keluarga. Dari data dia tahu bahwa rata-rata ekonomi keluarga di daerah itu kelas bawah. Untuk biaya dan keperluan lain juga kesulitan, apalagi tidak semuanya punya sepeda motor untuk mengantar anaknya.
Dia lantas mencari lokasi dan bangunan untuk pendirian TK. Ia bertemu Ngadilah (55) yang dengan senang hati menyambut niat baik Bripka Heri. Ngadilah bahkan secara sukarela memberikan bangunan rumahnya dijadikan TK. Namun, Bripka Heri tetap ingin membayar sewa kepada Ngadilah.
Relakan tukin
Seluruh biaya operasional, dari awal TK Bumi Damai Indonesia berdiri hingga kini, ditalangi oleh Bripka Heri. Ia menggunakan tunjangan kinerja (tukin) miliknya yang berjumlah Rp2,7 juta.
Sebanyak Rp2 juta digunakan untuk menggaji empat orang guru, sementara Rp700 ribu sisanya digunakan untuk operasional yang lain. Namun, terkadang ia juga menggunakan gaji pokoknya guna memenuhi keperluan lainnya.
Kepala Sekolah TK Bumi Damai Indonesia Sugiati (52) mengaku kagum dengan pengorbanan Bripka Heri. Dia menilai sosok Bripka Heri sebagai pribadi luar biasa yang peduli dengan pendidikan dan kondisi lingkungan sosial.
Tanah wakaf
Agaknya Bripka Heri telah membuktikan pepatah "Apa yang kau tanam, itu yang kau tuai". Ngadilah, sang pemilik bangunan yang menjadi lokasi berdirinya TK tersebut kemudian mewakafkan lahan miliknya seluas kurang lebih 200 meter kepada Bripka Heri untuk TK Bumi Damai Indonesia.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kisah Bripka Heri Prasetyo dirikan TK gratis di pelosok Gunungkidul
Terik Matahari tak menghapuskan senyum para murid menyambut Bripka Heri. Ia kemudian menyalami para murid, diikuti oleh rombongan Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Polri yang turut hadir menyaksikan aktivitas Bripka Heri di pelosok Gunungkidul, DIY, Selasa.
Lima murid perempuan lantas kompak menari selamat datang. Disusul pembacaan puisi oleh seorang murid pria dan nyanyian lagu-lagu wajib nasional setelahnya. Bripka Heri dan rombongan Divpropam Polri tersenyum melihat unjuk kebolehan para murid.
Tepatnya di Dusun Krambil, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), TK Bumi Damai Indonesia berdiri dengan mengontrak di sebuah rumah warga.
Murid-murid yang bersekolah di tempat itu tidak dibebani biaya apa pun, mulai dari seragam hingga peralatan belajar disediakan secara cuma-cuma. Di bangunan yang dikelilingi pohon rindang itu, mereka bersekolah, bermain, dan bersenda gurau dengan gratis. TK Bumi Damai Indonesia, Dusun Krambil, Desa Girisekar, Kec. Panggang, Kab. Gunungkidul, DIY, Selasa (20/6/2023). (ANTARA/Fath Putra Mulya)
Panggilan hati
Adalah Bripka Heri, anggota Subbid Provos Bidpropam Polda DIY, sosok di balik sekolah yang mulai aktif beroperasi sejak 2020 tersebut. Bripka Heri menceritakan, pendirian TK Bumi Damai Indonesia berawal dari panggilan hati beberapa pihak.
Bermula dari warga sekitar Dusun Krambil yang meminta Bripka Heri mendirikan taman kanak-kanak di daerah mereka. Ketika itu, pria yang lahir pada 1987 tersebut tengah aktif blusukan membagikan sembako ke pelosok-pelosok Gunungkidul, daerah kelahirannya.
Mendapat permintaan itu, Bripka Heri kemudian menyurvei lokasi yang dimaksud warga. Dari sana, ia mendapati bahwa di sekitar Dusun Krambil memang tidak ada TK. Kalau pun ada, lokasinya jauh, sehingga anak-anak biasanya langsung masuk ke sekolah dasar (SD), tanpa mengenal pembelajaran awal di tingkat taman kanak-kanak.
Dia kemudian melihat latar belakang dari keluarga. Dari data dia tahu bahwa rata-rata ekonomi keluarga di daerah itu kelas bawah. Untuk biaya dan keperluan lain juga kesulitan, apalagi tidak semuanya punya sepeda motor untuk mengantar anaknya.
Dia lantas mencari lokasi dan bangunan untuk pendirian TK. Ia bertemu Ngadilah (55) yang dengan senang hati menyambut niat baik Bripka Heri. Ngadilah bahkan secara sukarela memberikan bangunan rumahnya dijadikan TK. Namun, Bripka Heri tetap ingin membayar sewa kepada Ngadilah.
Relakan tukin
Seluruh biaya operasional, dari awal TK Bumi Damai Indonesia berdiri hingga kini, ditalangi oleh Bripka Heri. Ia menggunakan tunjangan kinerja (tukin) miliknya yang berjumlah Rp2,7 juta.
Sebanyak Rp2 juta digunakan untuk menggaji empat orang guru, sementara Rp700 ribu sisanya digunakan untuk operasional yang lain. Namun, terkadang ia juga menggunakan gaji pokoknya guna memenuhi keperluan lainnya.
Kepala Sekolah TK Bumi Damai Indonesia Sugiati (52) mengaku kagum dengan pengorbanan Bripka Heri. Dia menilai sosok Bripka Heri sebagai pribadi luar biasa yang peduli dengan pendidikan dan kondisi lingkungan sosial.
Tanah wakaf
Agaknya Bripka Heri telah membuktikan pepatah "Apa yang kau tanam, itu yang kau tuai". Ngadilah, sang pemilik bangunan yang menjadi lokasi berdirinya TK tersebut kemudian mewakafkan lahan miliknya seluas kurang lebih 200 meter kepada Bripka Heri untuk TK Bumi Damai Indonesia.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kisah Bripka Heri Prasetyo dirikan TK gratis di pelosok Gunungkidul
Pewarta : Fath Putra Mulya
Editor : Herry Soebanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dubes sebut Jak-Japan Matsuri cerminkan persahabatan rakyat RI-Jepang
15 September 2024 8:35 WIB, 2024
KPK rampungkan penyidikan tiga tersangka proyek Stadion Mandala Krida Yogyakarta
19 October 2022 12:03 WIB, 2022
Polda Sumsel sebut kepastian dana hibah Rp2 triliun Akidi Tio hari ini
03 August 2021 11:07 WIB, 2021
KPU Gunung Kidul sebut dana kampanye Sunaryanta-Heri Susanto Rp5,12 miliar
29 December 2020 7:54 WIB, 2020
Terpopuler - Jogja Terkini
Lihat Juga
Sultan HB X: Pengelolaan keuangan kelurahan harus menghindari tumpang tindih
28 April 2026 12:47 WIB