Sastra mampu pancing diskusi kritis antara siswa dan guru di Indonesia
Minggu, 2 Juni 2024 19:03 WIB
Sastrawan sekaligus Anggota Tim Kurator Sastra Masuk Kurikulum Okky Madasari (paling kanan), Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Anindito Aditomo (tengah), dalam temu media tentang sastra masuk kurikulum di Jakarta, Jumat (31/5/2024). (ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari)
Jakarta (ANTARA) - Sastrawan sekaligus Anggota Tim Kurator Sastra Masuk Kurikulum, Okky Madasari, menyatakan bahwa menggunakan buku-buku sastra sebagai bahan ajar dalam kurikulum dapat memancing diskusi kritis antara siswa dan guru.
"Karya sastra adalah ruang interpretasi, maka dibutuhkan kemampuan dari guru untuk menginterpretasikan kemudian memancing diskusi kritis. Kalau kita bicara metode atau jalan pengajaran (pedagogis), maka ini akan melibatkan banyak diskusi kritis antara guru dan siswa," katanya dalam temu media tentang sastra masuk kurikulum di Jakarta, Jumat.
Selain itu, menurutnya, lewat sastra guru dapat memancing rasa ingin tahu siswa lebih dalam untuk mempelajari cerita-cerita yang lain.
"Dengan buku sastra, dipantik keingintahuan siswa untuk mempelajari pengetahuan sesuai tujuan dari kurikulum merdeka, jadi itu pendekatan pedagogis yang dilakukan dalam proses kurasi buku," ujar dia.
Ia melanjutkan, kurasi atau pemilihan buku oleh para tim kurator dilakukan secara bebas dari buku-buku yang sudah beredar, banyak dibaca, atau mendapatkan banyak pembicaraan, bahkan dari buku-buku yang terlupakan tetapi memiliki makna yang dalam.
"Dalam proses kurasi, yang kita lihat value (nilai) apa yang bisa diajarkan dalam proses belajar-mengajar melalui buku ajar karya sastra, dan ini sifatnya hanya daftar rekomendasi, bukan untuk memberikan penghargaan mana penulis-penulis yang menulis karya sastra terbaik," ucapnya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Sastrawan: Sastra dapat memancing diskusi kritis antara siswa dan guru
"Karya sastra adalah ruang interpretasi, maka dibutuhkan kemampuan dari guru untuk menginterpretasikan kemudian memancing diskusi kritis. Kalau kita bicara metode atau jalan pengajaran (pedagogis), maka ini akan melibatkan banyak diskusi kritis antara guru dan siswa," katanya dalam temu media tentang sastra masuk kurikulum di Jakarta, Jumat.
Selain itu, menurutnya, lewat sastra guru dapat memancing rasa ingin tahu siswa lebih dalam untuk mempelajari cerita-cerita yang lain.
"Dengan buku sastra, dipantik keingintahuan siswa untuk mempelajari pengetahuan sesuai tujuan dari kurikulum merdeka, jadi itu pendekatan pedagogis yang dilakukan dalam proses kurasi buku," ujar dia.
Ia melanjutkan, kurasi atau pemilihan buku oleh para tim kurator dilakukan secara bebas dari buku-buku yang sudah beredar, banyak dibaca, atau mendapatkan banyak pembicaraan, bahkan dari buku-buku yang terlupakan tetapi memiliki makna yang dalam.
"Dalam proses kurasi, yang kita lihat value (nilai) apa yang bisa diajarkan dalam proses belajar-mengajar melalui buku ajar karya sastra, dan ini sifatnya hanya daftar rekomendasi, bukan untuk memberikan penghargaan mana penulis-penulis yang menulis karya sastra terbaik," ucapnya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Sastrawan: Sastra dapat memancing diskusi kritis antara siswa dan guru
Pewarta : Lintang Budiyanti Prameswari
Editor : Herry Soebanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Youtube siap dilibatkan diskusi soal sertifikasi kreator konten dengan pemerintah
05 November 2025 17:17 WIB
Satpol PP Bantul selenggarakan diskusi penegakan Perda sesuai regulasi terbaru
29 October 2025 18:34 WIB
LTD jajaki sister village Indonesia--Jepang lewat literasi dan kolaborasi desa
24 August 2025 21:14 WIB
Diskusi 200 tahun Perang Jawa ajak anak muda belajar dari Semangat Diponegoro
23 August 2025 20:01 WIB
Sleman menyelenggarakan diskusi pemuka agama ciptakan pilkada damai
19 November 2024 16:34 WIB, 2024