Yogyakarta (ANTARA) - Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar forum rutin Pojok Bulaksumur edisi September 2025 pada Kamis (4/9), sebagai ruang dialog menghadirkan refleksi kritis namun konstruktif atas berbagai isu kebangsaan dengan menghadirkan para akademisi yang membicarakan bagaimana suara rakyat seharusnya didengar, demokrasi diperbaiki, dan stabilitas bangsa tetap terjaga.
Forum tersebut menjadi wadah refleksi atas aksi demonstrasi yang tengah berlangsung di berbagai kota di Indonesia dan melihatnya dari beragam sudut pandang, mulai dari politik, psikologi, hingga keamanan.
“Rakyat tidak boleh hanya menjadi penonton. Suara publik adalah kunci untuk mengontrol jalannya pemerintahan. Tanpa kontrol yang kuat, lembaga politik sulit bekerja untuk rakyat,” kata Achmad Munjid, salah satu narasumber yang menekankan pentingnya peran masyarakat dalam demokrasi
Narasumber yang lain, Alfath Bagus menilai perlunya perbaikan sistem dalam tata kelola demokrasi.
Baca juga: Pemerintah perkirakan total kerugian akibat demo hampir Rp900 miliar
“Kita perlu menata kembali sistem politik agar lebih responsif terhadap aspirasi masyarakat. Reformasi kelembagaan dan penegakan hukum menjadi bagian penting untuk memperkuat kepercayaan publik,” ujarnya.
Sementara dari perspektif psikologi, Prof. Faturochman menyoroti pentingnya kepercayaan sosial.
“Pemimpin perlu menumbuhkan rasa hormat terhadap rakyat. Empati dan penghargaan kepada masyarakat adalah pondasi penting dalam membangun stabilitas,” jelasnya.
Menanggapi isu peran aparat keamanan, Achmad Munjid mengingatkan bahwa penanganan demonstrasi perlu dilakukan secara bijak.
Baca juga: Kompolnas ungkap ada potensi pidana di kasus rantis tabrak ojol
“Kalau orang ditekan terus, orang Jawa pernah mengatakan kalau dalam situasi yang kurang mengenakan ada yang memegang prinsip ngalah, ngaleh, lalu akhirnya bisa ngamuk. Situasi sosial kita pasca-COVID bahkan saat ini memang penuh tekanan, sehingga kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat mudah memicu kemarahan. Karena itu, aparat perlu bertindak profesional dan pemerintah harus mendengar tuntutan publik,” katanya.
Ia menambahkan fenomena demonstrasi hari ini berbeda dengan era sebelumnya.
“Kalau dulu gerakan mahasiswa terkoordinasi dengan baik, kini siapapun bisa ikut serta secara spontan. Karena itu, masyarakat sipil dan mahasiswa perlu lebih terorganisasi agar aspirasi dapat tersampaikan tanpa melibatkan kekerasan,” lanjutnya.
Pojok Bulaksumur sendiri telah menjadi agenda rutin UGM yang menghadirkan refleksi kritis namun konstruktif atas berbagai isu kebangsaan, dengan harapan dapat memperkuat dialog publik serta menjaga keseimbangan antara hak bersuara dan stabilitas bangsa.
Baca juga: Polisi tangkap enam tersangka penghasut pemicu kerusuhan di Jakarta
Baca juga: Membatasi informasi soal demo bantu keluarga terhindar dari rasa stres
