Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, Indonesia masih punya ruang untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global seiring dampak dari konflik AS-Iran.

“Risiko dari konflik ini memang nyata, tapi bukan berarti tidak bisa dikelola. Kuncinya ada direspons kebijakan. Selama fiskal dan moneter bisa jalan seirama dan kredibel, kita masih punya ruang untuk menjaga stabilitas di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian ini,” ucapnya kepada ANTARA, Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, titik paling sensitif ada di Selat Hormuz yang terganggu, sehingga pasar bereaksi dengan kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global yang meningkat.

Baca juga: Pemerintah jamin stabilitas ekonomi RI di tengah ketidakpastian global

Baca juga: Bapanas memperkuat intervensi pangan demi jaga stabilitas jelang Lebaran

Dampak dari konflik ini langsung terasa di Indonesia karena masih mengimpor minyak, sehingga beban subsidi ikut naik dan menekan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Apabila tak diantisipasi, maka ruang fiskal semakin sempit dan risiko defisit melebar tetap ada.

Menurut Yusuf, pemerintah tak cukup hanya menambah subsidi, tetapi bagaimana melakukan efisiensi dan menata ulang belanja.

“Program-program besar perlu dilihat lagi prioritas, mana yang dampaknya langsung ke masyarakat dan mana yang bisa ditunda atau disesuaikan. Selain itu, subsidi juga perlu makin tepat sasaran supaya tidak boros dan benar-benar melindungi kelompok yang paling rentan,” ungkap dia.

Melihat dampak di pasar keuangan, investor cenderung menahan risiko sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah, pasar saham yang melemah, dan kenaikan yield obligasi.

Dalam konteks ini, peran Bank Indonesia disebut semakin penting. Suku bunga acuan bisa digunakan untuk menjaga daya tarik aset domestik dan meredam tekanan nilai tukar, walaupun harus dihitung supaya tak terlalu menekan pertumbuhan.

Kebijakan makroprudensial juga bisa dimainkan, misalnya dengan menjaga likuiditas perbankan tetap cukup agar kredit tak tersendat, sehingga stabilitas tetap terjaga tanpa harus mengorbankan aktivitas ekonomi terlalu dalam.

“Menurut saya yang paling krusial justru koordinasi. Ketika fiskal menunjukkan disiplin lewat efisiensi dan penajaman belanja, dan moneter responsif menjaga stabilitas, itu akan terbaca positif oleh pasar. Investor melihat bahwa kebijakan kita terarah dan terkendali,” kata Yusuf.

“Sebaliknya, kalau fiskal melebar tanpa kontrol sementara moneter harus menahan tekanan sendirian, biasanya pasar akan lebih reaktif dan volatilitas meningkat,” ujarnya.








Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Ekonom: RI punya ruang jaga stabilitas di tengah ketidakpastian global