Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari harus diperkuat untuk menghadapi berbagai tantangan bangsa, mulai dari gejolak ekonomi global hingga ancaman perpecahan sosial di dalam negeri.

"Di tengah ancaman gejolak ekonomi global yang kian nyata dan potensi dampaknya terhadap persatuan yang terus mengintai di dalam negeri, urgensi menghidupkan Pancasila dalam keseharian bukan lagi pilihan, melainkan keharusan," kata Lestari dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Lestari mengatakan tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini semakin kompleks sehingga tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan sektoral atau parsial.

Karena itu, nilai-nilai Pancasila perlu menjadi landasan dalam penyusunan kebijakan ekonomi, pembangunan sosial, dan upaya menjaga persatuan nasional.

"Pancasila bukan hanya fondasi negara. Ia adalah ruh yang harus kita aplikasikan dalam setiap kebijakan ekonomi, dalam setiap interaksi sosial, dan dalam setiap upaya menjaga persatuan. Saatnya kita bergerak dari seremoni ke aksi nyata," ujarnya.

Lestari menilai perlambatan ekonomi global berpotensi memberikan dampak terhadap kondisi sosial dan ekonomi nasional.

Ia mengutip data dari United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 hanya mencapai 2,6 persen, sementara negara-negara berkembang menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi, pangan, dan nilai tukar.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, ia mendorong penguatan gotong royong antarpemangku kepentingan melalui kolaborasi pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam melindungi kelompok rentan serta memperkuat jaring pengaman sosial.

"Tanpa gotong royong yang kuat antarpemangku kepentingan, tanpa keadilan sosial yang nyata, kelompok rentan akan terdampak paling parah. Sila kelima harus menjadi kompas kebijakan kita," katanya.

Selain itu, anggota Komisi X DPR RI tersebut menilai penguatan literasi digital masyarakat menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran hoaks dan polarisasi yang berpotensi mengganggu persatuan bangsa.

"Tanpa kecakapan literasi digital yang memadai, anak bangsa berpotensi terus terjebak dalam polarisasi dan hoaks. Negara harus hadir dengan pendidikan karakter berbasis Pancasila yang adaptif terhadap tantangan zaman," ujar Lestari.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: MPR : Pengamalan Pancasila perlu diperkuat hadapi tantangan global