Logo Header Antaranews Jogja

BPS DIY sebut harga kelompok transportasi dorong inflasi Mei

Selasa, 2 Juni 2026 20:03 WIB
Image Print
Kantor Badan Pusat Statistik BPS Daerah Istimewa Yogyakarta. (ANTARA/HO-PPID BPS DIY)

Yogyakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebut bahwa kenaikan harga pada kelompok transportasi mendorong inflasi bulanan pada Mei 2026 di provinsi ini yang tercatat sebesar 0,15 persen.

"Inflasi bulanan pada Mei 2026 terutama didorong kenaikan harga pada kelompok transportasi yang memberikan andil sebesar 0,11 persen," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih dalam keterangan di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, kenaikan tarif angkutan udara menjadi komoditas utama yang memengaruhi kelompok tersebut.

"Selain itu, kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, cabai merah, cabai rawit, dan minyak goreng turut memberikan kontribusi terhadap inflasi bulan Mei," katanya.

Menurut dia, berdasarkan pengeluaran, kelompok transportasi mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,86 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga mengalami inflasi sebesar 0,33 persen.

"Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 0,43 persen," katanya.

Sementara di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,21 persen sehingga menahan laju inflasi yang lebih tinggi.

"Beberapa komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar antara lain telur ayam ras, emas perhiasan, bayam, kelapa, dan daging ayam ras," katanya.

Endang mengatakan, secara tahunan, inflasi DIY sebesar 2,77 persen masih menunjukkan kondisi harga yang relatif terkendali. Penyumbang utama inflasi tahunan berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan andil sebesar 1,03 persen.

"Komoditas emas perhiasan menjadi faktor dominan pada kelompok ini. Selain itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau menyumbang andil inflasi sebesar 0,89 persen, terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga cabai rawit, beras, dan daging ayam ras," katanya.

Kemudian jika dilihat dari komoditas penyumbang inflasi tahunan, emas perhiasan memberikan andil terbesar, diikuti cabai rawit, beras, daging ayam ras, dan minyak goreng.

"Sebaliknya, komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar adalah kelapa, bawang putih, kacang panjang, tomat, dan daun melinjo," katanya.

Lebih lanjut, berdasar wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), Kota Yogyakarta mengalami inflasi bulanan 0,20 persen dan inflasi tahunan 2,99 persen. Sementara Gunungkidul mengalami inflasi bulanan 0,12 persen dan inflasi tahunan sebesar 2,59 persen.

Dengan demikian, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Yogyakarta, sedangkan yang terendah terjadi di Kabupaten Gunungkidul.

"Namun, secara umum, perkembangan harga pada Mei 2026 relatif stabil. Kenaikan harga pada sektor transportasi dan beberapa komoditas pangan strategis dapat diimbangi penurunan harga sejumlah komoditas lain, sehingga laju inflasi tetap terkendali," katanya.



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026