Logo Header Antaranews Jogja

Penderita kanker terancam miskin

Jumat, 8 Juni 2012 17:33 WIB
Image Print
GKR Hemas (Foto antaranews.com)

Jogja (ANTARA Jogja) - Penderita kanker terancam miskin karena penyakit tersebut membutuhkan pengobatan rutin dan biaya tinggi, kata Ketua Yayasan Kanker Indonesia Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta Gusti Kanjeng Ratu Hemas.

"Apalagi jika yang terjangkit penyakit kanker merupakan tampuk pencari nafkah keluarga. Akibatnya, keperluan pendidikan anak dan biaya hidup sehari-hari yang merupakan komponen pokok bisa sangat menyedihkan," katanya di Yogyakarta, Jumat.

Pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-35 Yayasan Kanker Indonesia (YKI), ia mengatakan, pihaknya merasa prihatin dengan para penderita kanker yang tidak mampu untuk melakukan pengobatan.

"Kami prihatin dengan kondisi tersebut. Oleh karena itu, kami mengetuk hati para donatur untuk bisa membantu para penderita penyakit kanker," kata Hemas yang juga istri Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Ia mengatakan, YKI menyampaikan terima kasih kepada semua institusi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan masyarakat yang telah rela dan bekerja sama dalam penanggulangan penyakit kanker.

Hal itu di antaranya diwujudkan dalam pemberian resep YKI untuk pembelian obat kanker dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan harga nonresep YKI.

"Selain itu, Sasana Marsudi Husada juga telah memberikan pengobatan kepada penderita kanker dewasa dan anak yang singgah dengan biaya sangat ringan," kata Hemas.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur DIY Paku Alam IX mengatakan, kemajuan teknologi dan informasi banyak memengaruhi perubahan gaya hidup seseorang yang cenderung tidak sehat.

"Padahal, pola hidup tidak sehat akan berdampak terhadap munculnya berbagai masalah kesehatan seperti penyakit kanker serviks. Di Indonesia pada umumnya kanker serviks memicu 20 kematian setiap hari atau hampir setiap jam seorang penderita meninggal," katanya.

Menurut dia, hal itu terjadi karena kemungkinan besar sepertiga dari kasus kanker serviks datang ke tempat pelayanan kesehatan sudah pada stadium lanjut, sehingga kanker sudah menjalar dan menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh.

"Saya berharap melalui momentum peringatan HUT YKI itu nanti bisa menyadarkan masyarakat dengan mengupayakan pencegahan melalui `pap smear` untuk kanker leher rahim dan Sadari (periksa payudara sendiri)," katanya.

Peringatan itu juga diisi penandatanganan nota kesepahaman antara YKI Cabang DIY dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY, Rumah Sakit Dr Sardjito, dan Tim Penggerak PKK DIY tentang program penanggulangan kanker.

(B015)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026