
Wamendikbud: universitas harus jadi benteng efisiensi energi

Bogor (ANTARA Jogja) - Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim menyatakan bahwa universitas harus menjadi benteng untuk melakukan program efisiensi energi dalam lingkungan, khususnya dalam aplikasi kecukupan pangan.
"Yang harus dilakukan perguruan tinggi adalah bagaimana mengajar sains dan teknologi kepada mahasiswa dengan cara yang bijaksana agar lebih peduli terhadap pertanian masa depan dengan wawasan lingkungan," katanya di Bogor, Jawa Barat, Rabu.
Saat membuka seminar antarbangsa Program Indonesia Managing Higher Education for Relevance and Efficiency (I-MHERE) dalam rangka Dies Natalis IPB ke-49, ia mengatakan bahwa Indonesia berharap tidak ada produk-produk yang ditolak hanya karena dinilai tidak pro-lingkungan.
"Kita tidak mau produk-produk kita dilarang masuk ke negara maju karena tidak 'care' terhadap lingkungan, sehingga perguruan tinggi diharapkan bisa mengembangkan 'green technology'," katanya.
Menurut dia, akhir-akhir ini banyak hasil penelitian bidang pertanian, namun sedikit yang sudah disebarluaskan.
Ia mengatakan bahwa Dirjen Dikti sangat berkeinginan untuk menghasilkan inovasi dan mendorong agar prioritas penelitian adalah hasil riset yang bisa dikembangkan ke depan.
Dalam rangka Dies Natalis IPB ke-49 pada 2012 ini, di sela-sela seminar tersebut juga diluncurkan lima varietas baru padi unggul hasil riset peneliti IPB.
Lima varietas padi unggulan hasil penelitian Dr Hajrial Aswidinoor dan tim dari Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB itu adalah pertama, IPB 3S, yakni untuk sawah tadah hujan dan lahan irigasi dengan produktivitas 7 ton per ha dan berpotensi menghasilkan 11,2 ton per ha.
Kedua, IPB 4S untuk sawah tadah hujan dan lahan irigasi dengan produktivitas 7 ton dan berpotensi menghasilkan 10,5 ton per ha.
Dua varietas ini tahan tungro, agak tahan terhadap penyakit blast, dan agak tahan terhadap hawar daun bakteri.
Ketiga, IPB Batola 5R untuk lahan pasang surutdanlebak, dengan produktivitas 4,3 ton per ha dan berpotensi menghasilkan 5,3 ton per ha GKG (Gabah Kering Giling).
Keempat, IPB Batola 6R dengan produktivitas 4,2 ton per ha dan berpotensi menghasilkan 4,9 ton per ha GKG.
Empat varietas dimaksud berhasil mendapatkan SK dari Kementerian Pertanian pada tanggal 28 Maret 2012.
Sedangkan varietas kelima adalah IPB Kapuas 7R, yakni varietas ungul padi rawa berhasil mendapatkan SK dari Kementan pada 7 Juli 2012 dengan produktivitas 4,5 ton per ha dan berpotensi menghasilkan 5,1 ton ha GKG.
Varietas ini tahan terhadap penyakit blast, agak peka pada wereng batang coklat, tahan cekaman Al dan Fe, tahan cekaman.
Khusus untuk varietas lahan pasang surut atau rawa (Batola 5R, Batola 6R dan Kapuas 7R), varietas-varietas yang dihasilkan berasal dari hasil penyilangan padi siam dengan padi lainnya. Ini karena kebanyakan masyarakat Kalimantan, yang memiliki lahan pasang surut, lebih menyukai beras dengan bentuk lonjong seperti padi siam.
Melihat prestasi yang berhasil dicapai IPB itu, Wamendikbud Musliar Kasim mengatakan akan memberikan dana riset dengan jumlah yang tidak terbatas untuk IPB.
(A035)
Pewarta :
Editor:
Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026
