Logo Header Antaranews Jogja

Industri pembuatan thiwul di Bantul makin berkembang

Rabu, 12 September 2012 15:50 WIB
Image Print
Thiwul makanan khas gunung produksi perajin Mangunan, Bantul, DIY (Foto ANTARA/Sidik)

Bantul (ANTARA Jogja) - Industri kecil pembuatan "thiwul" atau makanan khas dari kelapa dan tepung gaplek produksi perajin asal Desa Mangunan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, semakin berkembang.

Pemilik industri pembuatan thiwul "Mbok Sum" Suminem di Bantul, Rabu, mengatakan usaha yang dirintis sejak 1997 awalnya hanya dipasarkan ke pasar-pasar maupun ke lingkungan kantor setempat, namun saat ini sudah dipasarkan sampai ke luar Bantul seperti Klaten dan Magelang (Jawa Tengah).

"Awalnya hanya dijual dengan berkeliling ke kantor dan rumah-rumah, namun Alhamdulilliah banyak peminatnya sampai sekarang, berawal dari situ kita mulai banyak pesanan, bahkan pesanan datang dari luar Bantul," katanya.

Menurut dia, bahkan saat liburan seperti libur Lebaran atau libur panjang akhir pekan, pesanan makanan khas gunung ini ramai yang datang dari berbagai daerah seperti Solo dan Surabaya yang berlibur di Yogyakarta, karena makanan ini cocok sebagai oleh-oleh keluarga.

"Kalau pas liburan sama hari Minggu pesanan ramai, dalam sehari bisa menjual sampai 300 dus, namun kalau hari biasa rata-rata sebanyak 200 dus," katanya yang menjual thiwul dengan harga Rp3.500 sampai Rp4.000 per dus tergantung jarak pengantaran.

Ia mengatakan, dengan dibantu keluarga yang berjumlah tiga orang, dirinya mengaku omzet penjualan thiwul per harinya bisa mencapai sebesar Rp1 juta lebih. Namun jika pesanan ramai dirinya mencari tambahan tenaga dari tetangga.

"Saya memang tidak pernah menghitung secara pasti, namun keluarga bersyukur usaha ini bisa berkembang," katanya yang telah memiliki tiga anak yang salah satunya bisa menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

Menurut dia, untuk bahan baku seperti kelapa serta tepung gaplek mudah didapatkan dari pasar tradisional setempat, selama merintis usaha dirinya mengaku tidak pernah mengalami kesulitan untuk mendapat pasokan bahan baku.

"Bahan baku masih bisa dicukupi dari lingkungan setempat, kalau benar-benar kesulitan bahan baku memang jarang, mungkin kalau persediaan terbatas itu pernah, karena biasanya pas lagi tidak musim," katanya.

(KR-HRI)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026