
Korban Merapi di Sleman peroleh "trauma healing"

Sleman (ANTARA Jogja) - Anak-anak korban bencana erupsi Gunung Merapi 2010 di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu, mendapatkan "trauma healing" untuk memulihkan kondisi mental setelah mereka hidup di pengungsian dan hunian sementara.
"`Trauma healing` ini bagi anak-anak SD wilayah Kecamatan Cangkringan dan Ngemplak," kata Penanggung jawab Operasional Kegiatan (PJOK) Rosalia Rusbiyanti Mkes.
Menurut dia, pertemuan ini adalah untuk "trauma healing" di lima Desa di Kecamatan Cangkringan dan Desa Sindumartani di Kecamatan Ngemplak dengan sasarannya adalah anak-anak SD dan juga penerima program keluarga harapan yakni anak-anak dari keluarga sangat miskin.
"Kegiatan ini dipimpin Ibu Noni dari Institut Training and Development yang pada kesempatan tersebut mengajak mengoptimalisasi otak agar anak-anak senam otak, bisa belajar dengan senang tanpa kemalasan," katanya.
Ia mengatakan, selain itu Tim Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kabupaten Sleman pada kesempatan tersebut mengajak anak-anak bermain permainan tradisional.
"Ada 12 permainan tradisional yang ditawarkan dan ada 24 lagu-lagu tradisional seperti Sluku-sluku Batok, Sunguku, Menthok-menthok, Gethok, Tekate dipanah, Kidang Talun, Aku Due Pitik dan sebagainya," katanya.
Rosalia mengatakan, untuk "trauma healing" masyarakat mulai dari lansia sampai anak-anak diperhatikan bahkan sampai balita.
"Kegiatan yang kami lakukan diantaranya melalui sarasehan guru-guru PAUD agar mereka menerapkan permainan dan mengoptimalisasikan otak bagi anak didiknya yang prasekolah, untuk anak-anak SD melalui Trauma Healing dan bagi keluarga melalui USEP dan KUBE, orang muda melalui karang Taruna, kemudian lansia melaui senam," katanya.
Ia mengatakan, kegiatan ini juga dalam rangka Rehabilitasi dan Rekonstruksi pascaerupsi Merapi 2010.
"Tujuan kegiatan ini agar mereka daya lentingnya tetap tinggi, dan agar penguatan kapasitas masyarakat dalam pengurangan resiko bencana dan pemulihan dari trauma yang lalu," katanya
(U.V001)
Pewarta :
Editor:
Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026
