Logo Header Antaranews Jogja

Eksistensi kota ditentukan kecakapan pemimpin

Selasa, 11 Desember 2012 14:40 WIB
Image Print
Universitas Gadjah Mada (istimewa)

Jogja (ANTARA Jogja)-Eksistensi sebuah kota dalam relasi dunia global sangat ditentukan oleh kecakapan serta sosok pemimpin setempat, kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Daerah Istimewa Yogyakarta, Nur Achmad Affandi.

"Maju tidaknya sebuah kota serta eksistensinya dalam dunia internasional sangat dipengaruhi oleh kecakapan serta sosok pemimpin atau tokoh baik formal maupun informal,"katanya saat menjadi pembicara dalam diskusi dan peluncuran buku berjudul "Kota dan Globalisasi" di Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Selasa.

Menurut Affandi kebutuhan seorang pemimpin yang memilki wawasan luas akan wawasan yang di antaranya terkait kebijakan internasional sangat penting mengingat masyarakat Indonesia yang cenderung "paternalistik", sehingga sangat bergantung terhadap sosok pemimpin atau tokoh yang dimiliki.

"Masyarakat kita kan pada umumnya cenderung paternalistik yang cirinya mengikuti dan memiliki ketergantungan terhadap tokoh-tokoh formal maupun informal"kata mantan anggota DPRD DIY ini.

Selain itu, kata dia, konteks hubungan internasional antara satu masyarakat dengan masyarakat lain di Indonesia juga ditentukan oleh aturan-aturan yang dipengaruhi atau dibuat oleh pemimpin atau tokoh.

"Misalnya dalam konteks hubungan bisnis, walaupun komunikasi dalam bisnis tersebut awalnya informal, namun jika sudah berkembang menjadi sebuah transaksi maka mau tidak mau juga akan berhubungan dengan aturan-aturan pemerintah atau pemimpin ,"katanya.

Sementara itu, menurut dia, daerah istimewa Yogyakarta merupakan contoh daerah yang beruntung karena telah memiliki pemimpin atau tokoh yang memilki wawasan dan cukup dikenal dunia Internasional.

Sehingga, lanjut dia, masyarakat lokal maupun internasional memiliki persepsi bahwa bertemu dengan Sultan berarti berarti bertemu dengan tokoh budaya disamping juga tokoh pemerintahan.

"Yogyakarta sangat diuntungkan karena kebetulan memilki sosok pemimpin yang cakap serta dikenal didunia internasional,"katanya.

Namun demikian, kata dia, kemajuan sebuah kota juga dipengaruhi oleh wawasan masyarakat setempat mengenai isu-isu global yang berkembang.

"Misalnya saja dalam konteks bisnis, masyarakat bisnis kita ternyata masih lemah akan pengetahuan terkait perjanjian-perjanjian internasional seperti Free trade Area (FTA) yang telah turut ditandatangani oleh pemerintah kita sendiri,"katanya.

Dia mengatakan, hingga saat ini masyarakat Indonesia khususnya di kalangan pebisnis yang mengetahui dan mengenal perjanjian-perjanjian Internasional baru sekitar 8,6 persen, sedangkan selebihnya tidak tahu.

"Ketidak tahuan masyarakat ini juga ternyata menggambarkan lemahnya pemimpin atau tokoh formal maupun Informal dalam menginternalisasikannya di tengah-tengah masyarakat yang dipimpinnya,"katanya, sekaligus mengomentari isi buku "Kota dan globalisasi" yang merupakan karya hasil penelitian mahasiswa jurusan Ekonomi Internasional Universitas Gadjah mada angkatan 2009 dan 2010 tersebut.

(T.KR-LQH)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026