
Pemkab akan perlebar sungai atasi banjir

Kulon Progo (ANTARA Jogja) - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan memperlebar sungai dan saluran irigasi untuk mengantasi bencana banjir yang terjadi hampir setiap tahun yang mengakibatkan ratusan rumah dan sawah terendam.
Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, Jumat, mengatakan bahwa pemerintah kabupaten (pemkab) akan melakukan koordinasi dengan pemerindah daerah DIY untuk mengatasi masalah banjir yang mengancam lima kecamatan, yakni Galur, Lendah, Panjatan, Temon, dan Wates.
"Banjir di Kulon Progo hampir terjadi setiap tahun, maka kami ke depannya akan melakukan koordinasi dengan pemda DIY untuk mengatasi ini," kata Hasto saat melakukan peninjaun lokasi banjir di Kecamatan Panjatan.
Dia mengatakan bahwa banjir yang melanda Kulon Progo disebabkan oleh meluapnya sungai Heishero dan beberapa sungai lainnya. Padahal, pemerintah bersama masyarakat secara rutin membersihkan eceng gondok yang tumbuh subur di sungai. Banjir tahun ini, selain disebabkan meluapnya sungai juga disebabkan oleh curah hujan yang tinggi.
"Banjir terjadi hampir setiap tahun, kami akan mengusulkan untuk melebarkan sungai atau memasang klep di bantaran sungai sebab kewenangan sungai tidak hanya di Kabupaten, tetapi juga pemda DIY, ya, harus diatasi secara permanen," kata Hasto.
Camat Panjatan, Eko Pranyoto, di Kulon Progo, Jumat, mengatakan bahwa di wilayahnya terdapat 212 kepala keluarga (KK) yang rumahnya terendam banjir, serta Kantor Koramil Panjatan dan Polsek Panjatan ikut terendam.
"Kami sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) untuk membuatkan dapur umum yang bertugas memasakan warga yang belum bisa memasak di rumahnya," kata Eko.
Ia mengatakan bahwa banjir hingga masuk ke dalam rumah di Kecamatan Panjatan terjadi di Desa Krembangan sebanyak 28 KK, Cerme sebanyak 34 KK, Panjatan sebanyak tujuh KK dan Gotakan sebanyak 143 KK.
Banjir junga mengakibatkan sedikitnya 50 hektare sawah terendam air. Saat ini, petani sedang menyemai benih dengan umur sekitar 10 hari.
"Siang tadi, air sudah mulai surut. Hanya Desa Gotakan yang air masih menggenanggi sebagian rumah warga," kata Eko.
(KR-STR)
Pewarta :
Editor:
Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026
