Logo Header Antaranews Jogja

Pagar Plengkung Gading belum bisa segera direalisasikan

Kamis, 14 Maret 2013 15:11 WIB
Image Print
Plengkung Gading di Kota Yogyakarta (antarafoto.com) (antarafoto.com)

Jogja (Antara Jogja) - Penambahan pagar di sisi timur dan barat salah satu bangunan cagar budaya Kota Yogyakarta, Plengkung Gading belum akan direalisasikan dalam waktu dekat karena belum ada instansi yang memiliki anggaran untuk kegiatan itu.

"Setelah melakukan pertemuan dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Dinas Kebudayaan DIY serta dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3), diketahui belum ada satu pun instansi yang memiliki anggaran untuk pelaksanaan kegiatan itu," kata Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Yogyakarta Toto Suroto di Yogyakarta, Kamis.

Menurut Toto, apabila kegiatan akan dilakukan pada 2013 maka seharusnya pengajuan anggaran kegiatan sudah dilakukan sejak satu tahun sebelumnya.

"Jika akhirnya pekerjaan pembangunan pagar di Plengkung Gading tersebut dilimpahkan kepada kami, maka paling cepat baru bisa dikerjakan setelah anggaran perubahan," katanya.

Perhitungan sementara besar anggaran yang dibutuhkan, lanjut Toto, juga belum dapat dilakukan karena belum ada desain bentuk pagar yang bisa digunakan untuk menutup sisi timur dan barat Plengkung Gading.

"Soal desain pagar, baru akan dibicarakan pada pertemuan berikutnya karena bentuk pagar pun harus disesuaikan dengan bangunan cagar budaya di sana. Untuk itu, perlu rekomendasi dari Dewan Pelestarian Peninggalan Warisan Budaya (DP2WB)," katanya.

Pembangunan pagar di Plengkung Gading, sebuah bangunan cagar budaya yang menjadi bagian dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut dilakukan berdasarkan usulan keraton karena bangunan tersebut kerap digunakan untuk perbuatan asusila.

Sementara itu, Kepala BP3 Yogyakarta Tri Hartanto mengatakan hal senada tentang rencana pelaksanaan pembangunan pagar di sisi kiri dan barat Plengkung Gading.

"Dari hasil koordinasi dengan berbagai instansi, belum ada kesepakatan mengenai siapa yang akan mendanai dan bagaimana bentuk desain pagar yang akan dibangun," katanya.

Dalam kondisi ideal, lanjut Tri, sebenarnya tidak diperlukan penambahan pagar di bangunan cagar budaya tersebut. "Namun karena kondisinya sudah meresahkan masyarakat, maka diperlukan pagar," katanya.

Selain pagar, ia menyarankan adanya keterlibatan masyarakat dan kepolisian sekitar untuk bisa menjaga bangunan cagar budaya tersebut agar tidak disalahgunakan.
(.E013)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026