Logo Header Antaranews Jogja

Upacara Adat Labuhan Merapi menarik minat wisman

Rabu, 12 Juni 2013 14:09 WIB
Image Print
Ilustrasi labuhan Gunung Merapi (antarafoto.com)

Sleman (Antara Jogja) - Upacara Adat Labuhan Gunung Merapi yang digelar di Bukit Sri Manganti, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (10/6), menarik minat wisatawan mancanegara yang menyaksikan jalannya prosesi "tingalan dalem` atau naik tahta Sultan Hamengku Buwono X.

"Puluhan wisatawan mancanegara (wisman) yang berasal dari berbagai negara di antaranya Spanyol, Prancis, Polandia, Mesir, India, Australia, Amerika, Equador sangat terkesan saat mengikuti dan menyaksikan rangkaian upacara adat Labuhan Merapi yang digelar Kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat," kata Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata( Disbudpar) Kabupaten Sleman Wasita, Rabu.

Menurut dia, bahkan ada seorang profesor asal Polandia yang telah mengikuti sebanyak 11 kali penyelenggaraan Labuhan Merapi dalam 13 tahun terakhir.

"Antusiasme wisatawan mancanegara mengikuti acara tersebut terlihat nyata. Di antaranya ada yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir termasuk sehari sebelumnya dan pada malam harinya," katanya.

Ia mengatakan, meskipun prosesi Labuhan Merapi melalui jalur setapak yang begitu terjal sejauh 3,5 kilometer dari bekas kediaman Mbah Maridjan menuju ke Bangsal Sri Manganti mereka menikmati kehikmatan penyelenggaraan Labuhan Merapi tersebut.

Wasita mengatakan, wisatawan asal Equador Maria dan Catharina bahkan begitu jeli dan cermat mengamati pernik-pernik Labuhan Merapi.

"Keduanya mengungkapkan ketertarikannya terhadap keunikan tradisi yang digelar kerabat Keraton Yogyakarta tersebut," katanya.

Kepala Bidang Peninggalan Budaya dan Nilai Tradisional Disbudpar Kabupaten Sleman Aji Wulantara mengatakan, bahwa penyelenggaraan berbagai kegiatan budaya di antaranya upacara adat pada esensinya adalah penanaman jati diri, karakter dan watak warga masyarakat dalam membina kerukunan hidup berdasarkan tuntunan dan tatanan yang benar.

"Selain itu juga untuk menjaga keserasian dan keharmonisan dengan lingkungan alam untuk menuju konsep

`Hamemayu Hayuning Bawana` atau mempercantik dunia yang cantik," katanya.

(V001)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026