
36 ekor tukik dilepas di Pantai Trisik

Kulon Progo (Antara Jogja) - Kelompok Konservasi Penyu Abadi Trisik Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, melepas 36 ekor tukik atau anak penyu hijau di Pantai Trisik.
Ketua Kelompok Konservasi Penyu Abadi Trisik, Jaka Samudra di Kulon Progo, Rabu, mengatakan tukik yang dilepasliarkan itu baru berumur tujuh hari.
"Dari 600 butir telur penyu hijau yang ditetaskan, baru 36 tukik yang dilepasliarkan. Sebagian telur lainnya belum menetas," katanya.
Ia mengatakan sedikitnya telur penyu yang menetas disebabkan oleh mundurnya masa bertelur penyu, karena cuaca yang tidak stabil atau akibat cuaca ekstrem.
"Masa tetas telur sekarang ini mundur 10 hari dari biasanya yang hanya 40 hari, menjadi 50 hari, karena pengaruh cuaca. Pada Mei seharusnya memasuki musim kemarau, tetapi curah hujan tetap tinggi, sehingga penyu enggan mendarat," katanya.
Menurut dia, 600 telur penyu tersebut ditemukan oleh warga sekitar wilayah pesisir, seperti Siliran, Karangsewu, dan Trisik, kemudian diserahkan kepada kelompok konservasi.
Pihaknya memberikan kompensasi pengganti telur kepada warga yang menemukan telur penyu sebesar Rp2.000 per butir. "Ini juga menjadi kendala kami untuk biaya operasionalnya. Kelompok konservasi sudah tidak punya dana lagi untuk perawatan, dan biaya pengganti telur," katanya.
Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I Titi Sudaryanti mengatakan pantai selatan Provinsi DIY menjadi habitat utama beberapa jenis penyu.
Menurut dia, letaknya tersebar di sepanjang pantai di Kabupaten Gunung Kidul, Bantul, dan Kulon Progo.
Namun, kata dia, pada perkembangannya jumlah penyu yang mendarat dan tingkat populasinya terus menurun.
Hal itu akibat pengaruh cuaca, dan kondisi lingkungan bertelurnya. "Anomali cuaca juga menyebabkan perubahan masa bertelur penyu menjadi lebih awal," katanya.
Ia mengatakan, saat mendarat penyu membutuhkan suasana yang mendukung, yakni lingkungan sepi dan gelap. Biasanya penyu mendarat untuk bertelur pada Agustus-September.
Namun, menurut dia, perubahan cuaca saat ini menyebabkan penyu mendarat lebih awal, yaitu pada bulan Juni.
"Faktor predator alam dan kemampuan bertahan dari tiap anakan penyu juga berpengaruh pada populasi penyu," katanya.
Menurut dia, probabilitas bertahan hidup tukik setelah dilepasliarkan masih rendah. "Dari 100 ekor, kemungkinan hanya dua persennya yang mampu bertahan hidup," katanya.
Oleh karena itu, ia mengimbau kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam konservasi untuk meningkatkan populasi penyu.
"Memang tidak mudah menumbuhkan kesadaran konservasi di kalangan masyarakat. Tetapi itu harus terus ditanamkan, bahwa penyu tidak boleh diperjualbelikan, baik telur maupun dagingnya," katanya.
(KR-STR)
Pewarta : Oleh Sutarmi
Editor:
Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026
