
Orang muda Katolik angkat kesenian tradisional

Kulon Progo (Antara Jogja) - Festival Kesenian Tradisional Orang Muda Katolik Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengangkat kesenian tradisional berbasis budaya rakyat.
Pendamping Orang Muda Katolik (OMK) Kulon Progo 2011-2013, Romo Budi Purwantoro, Pr di Kulon Progo, Minggu mengatakan budaya rakyat selalu mencerminkan sifat komuniter, buah dari "srawung" atau pergaulan, sifat kesederajatan antar anggota-anggota komunitas karena muncul dari kebersamaan dalam menghadapi kehidupan.
"FKT OMK Kulon Progo, mencoba mengangkat keseninan tradisional yang mulai ditinggalkan. Kesenian tradisional adalah budaya rakyat yang sarat perjumpaan bermakna," kata Romo Budi.
Ia mengatakan mengambil pilihan pada budaya rakyat adalah pilihan yang bijak karena budaya rakyat menempatan manusia pada kemanusiaannya, sekaligus menjadi kritik terhadap sesuatu yang sudah mapan, yang seringkali untuk mengkotak-kotakan manusia, melanggengkan kekuasaan manapun, segala macam bentuk penindasan yang menciderai kemanusiaan.
"Kearifan lokal melakui budaya rakyat inilah yang justru akan semakin memperkaya kehidupan. Justru dengan kearifan lokal yang dihidup ini, masusia bersama-sama memperjuangkan kehidupan yang lebih manusiawi, menjadi secercah cahaya dalam carut-marut masalah kemanusiaan di Indonesia," katanya.
Menurut Romo Budi, kehidupan yang lebih manusiawi adalah kehidupan yang memandang orang lain sebagai pribadi yang berharga, bukan karena leluhurnya, sukunya, agamanya, kebangsaannya, kedudukannya, hubungan keluarganya, kepandaiannya, pekerjaannya.
Sebab, solidaritas yang dibangun adalah solidaritas yang tidak pernah mengesampingkan siapa pun.
Setiap orang perlu mencinta-cintakan karena mereka adalah pribadi. "Inilah ketelanjangan yang memungkinkan orang srawung dengan merdeka," kata dia.
Koordinator Paguyuban Romo-romo Rayon Kulon Progo, Romo AG.Ariawan, Pr mengatakan keseninan memberikan inspirasi dan dorongan untuk semakin menghargai dan merawat alam sebagai ciptaan Tuhan.
Menurut Romo Ariawan, Festival Kesenian Tradisional 2013 di Kabupaten Kulon Progo ini, nampak sekali kerjasama lintas usia, lintas iman, lintas struktur yang makin terjalin.
"Yang paling mencolok, adalah tertumpuknya rasa "handarbeni" atau memiliki terhadap kesenian tradisional lokal yang sampai sekarang masih dihidupi dan dicintai masyarakat Kulon Progo," kata dia.
Rupanya, kata dia, kerjasama ini juga berimbas kepada kegiatan lain yang menunjang kerukunan dan gotong royong sebagai nafas kehidupan masyarakat Kulon Progo.
""Ngrukti Bumi Amrih Lestari Titah Illahi" yang tertuang dalam bentuk kesenian tradisional, diharapkan bisa memberikan inspirasi dan dorongan untuk semakin menghargai dan merawat alam sebagai ciptaan Tuhan,"kata dia.
Ketua Panitia FKT OMK Kulon Progo 2013 Bonifasius Galih mengatakan mengatakan festival ini mengajak umat manusia untuk merefleksikan kembali karya penciptaan dan peruntusan manusia.
"Ngrukti Bumi Amrih Lestari Titah Ilahi merupakan gerakan kembali kepada Allah Sang Pencipta yang menginginkan semua tetap baik adanya bahkan amat baik. Manusia sebagai citra Allah-rekan kerja Allah untuk menjaga alam semesta ini," kata Galih.
Ia mengatakan FKT OMK Kulon Progo merupakan kegiatan tahunan. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak lima tahun terakhir.
Kegiatan FKT OMK Kulon Progo 2013, kata Galuh, menampilkan kesenian dari daerah Kulon Progo yaitu Janggukbetantan "Wahyu Trinijining Pertiwi" oleh OMK Promasan, sendratari kolosal "Baritan" dari OMK Boro, sendratari kolosal "Angrukti Pertiwi" OMK Nanggulan, Sendratari "Enjer Kethek Sugriwa Subali" OMK Pelem Dukuh, Kesenian Rakyat Menthek OMK Bonoharjo, Incling OMK Wates, reyog wayang "Semar Bangun Khayangan" OMK Brosot, dan kesenian lokal Setrek Muslim dari Tanjung-Nggendhol Kalibawang.
(KR-STR)
Pewarta : Oleh Sutarmi
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
