Logo Header Antaranews Jogja

BPPTKG: perlu perubahan pola pikir menghadapi bencana

Kamis, 13 Maret 2014 20:06 WIB
Image Print
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Subandriyo (kanan) (Foto Antara)

Sleman (Antara Jogja) - Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Yogyakarta Subandrio menilai banyak kejadian bencana alam dalam beberapa tahun terakhir, sehingga diperlukan perubahan pola pikir masyarakat dalam menghadapinya.

"Memasuki abad 21 ini bencana yang terjadi di Indonesiaa silih berganti, dan dipicu dengan terjadinya gempa bumi dan tsunami di Aceh, beberapa tahun lalu. Waktu itu gempa dengan skala maksimal 9 skala Richter mengakibatkan patahan mencapai 900 kilometer yang berakibat pada tatanan tektonik di Indonesia," katanya.

Menurut dia, yang perlu diingat bahwa selama satu tahun terjadi 180 kejadian berbagai bencana yang perlu diwaspadai.

"Dengan banyaknya bencana akan menimbulkan banyak kemiskinan yang harus diantisipasi. Yang perlu dipahami dan mengubah pola pikir masyarakat, yaitu bagaimana menghadapi bencana. Yang sangat penting adalah harus ada perubahan tata ruang ke arah selatan dari Gunung Merapi," katanya.

Ia mengatakan yang perlu diketahui bahwa setiap gunung yang mau meletus tingkat kegempaannya akan meningkat.

"Yang jelas kalau mau meletus dalam skala besar, deteksinya ada akselerasi dan gas, serta fenomena hembusan sangat sulit dideteksi, dan itu perlu diantisipasi," katanya.

Terkait perubahan status suatu gunungapi memang mudah, tetapi konsekuensinya sangat sulit, dan menjadi beban pihak lain.

Karena itu, menurut dia, untuk mengubah, baik menurunkan maupun menaikkan status, perlu perhitungan yang matang.

"Yang perlu diketahui masyarakat bahwa banyaknya gunungapi yang aktivitasnya meningkat saat ini, tidak mempengaruhi gunungapi lainnya, alias bukan penyakit menular," katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Julisetiono mengatakan ancaman bencana di kabupaten ini ada tujuh, yaitu bencana erupsi Gunung Merapi, banjir lahar dingin, gempa bumi, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan, dan kebakaran.

"Terjadinya bencana hujan abu yang terjadi akibat letusan Gunung Kelud perlu diantisipasi ke depan, bagaimana cara penanganan yang tepat, dan itu perlu pelatihan," katanya.

Dalam penanganan bencana, menurut dia, komunitas relawan dituntut profesional, meskipun kerja sosial dan sukarela.

Ke depan, kata dia, BPBD Sleman akan selalu menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas, dan akan dilakukan pendataan agaar dalam penanganan bencana bisa lebih terkoordinatif dan lebih baik," katanya.

(V001)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026