
BPPTKG turunkan status Merapi menjadi normal

Yogyakarta (Antara Jogja) - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi menurunkan status Gunung Merapi dari waspada menjadi normal terhitung sejak Jumat (23/5) pukul 16.00 WIB.
"Berdasarkan hasil evaluasi mengenai aktivitas kegempaan dan pengamatan visual dalam beberapa hari terakhir, maka status Gunung Merapi pun diturunkan menjadi Normal," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Subandriyo di Yogyakarta, Jumat.
Menurut Subandriyo, aktivitas kegempaan gunung api aktif yang terletak di perbatasan DIY dan Jawa Tengah tersebut cenderung mengalami penurunan secara merata untuk semua jenis kegempaan dalam beberapa hari terakhir.
Begitu pula dari pengamatan visual, lanjut Subandriyo, sudah tidak lagi terdengar suara dentuman dan gemuruh dari gunung seperti yang kerap terjadi saat status gunung masih Waspada.
"Deformasi pun tidak nampak. Oleh karena itu, dengan memperhatikan berbagai data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Merapi menuju kondisi normal dan tidak ada aktivitas yang mengarah pada letusan, sehingga statusnya pun diturunkan," katanya.
Subandriyo mengatakan, ada perbedaan yang cukup mencolok antara kondisi Merapi pada saat status Waspada tahun ini dengan status Waspada empat tahun lalu.
"Pada tahun ini, status Waspada ditetapkan untuk mengantisipasi adanya letusan minor. Sedangkan pada 2010, status Waspada ditetapkan untuk mengantisipasi letusan magmatis dengan energi yang besar," katanya.
Pada status waspada tahun ini, Merapi mengalami letusan minor dengan indeks skala letusan satu, yaitu jumlah material vulkanik yang dikeluarkan kurang dari 10.000 meter persegi.
"Kondisi itu sangat berbeda dibanding 2010. Saat itu, indeks skala letusannya mencapai empat. Material vulkanik yang dikeluarkan pun berkali-kali lipat," katanya.
Meskipun status Merapi sudah diturunkan menjadi Normal, namun BPPTKG tetap mengimbau kepada masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) tetap waspada.
Kewaspadaan tersebut diperlukan apabila sewaktu-waktu terjadi letusan minor di luar perkiraan akibat perubahan kondisi lingkungan, seperti curah hujan yang tinggi bisa menimbulkan letusan freatik.
Pendakian ke Merapi sudah dibuka, namun pendakian hanya direkomendasikan hingga ke Pasar Bubar.
(E013)
Pewarta : Oleh Eka Arifa Rusqiyati
Editor:
Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
