Logo Header Antaranews Jogja

Kerajinan Nilon Kulon Progo berkembang pesat

Minggu, 2 November 2014 21:39 WIB
Image Print
kerajinan Kabupaten Kulon Progo, DIY. (Foto ANTARA/Mamiek)

Kulon Progo (Antara Jogja) - Aneka kerajinan benang nilon di Desa Tuksono Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berkembang pesat seiring tingginya permintaan dari berbagai daerah dan luar negeri.

Salah satu perajin benang nilon "Nayla Craft" Desa Tuksono Ratri Candra Sari di Kulon Progo, Minggu, mengatakan dirinya mengembangkan usaha nilon ini dengan modal awal Rp8 juta.

"Saat ini, omzet per bulan mencapai Rp25 juta atau sekitar 150 pieces tas ukuran kecil dan sendang. Omzet ini, belum termasuk dengan kerajinan lainya. Permintaan dari berbagai daerah terus meningkat, bahkan ada permintaan dari Tiongkok, tapi kami tidak sanggup memenuhi permintaan mereka," kata Ratri.

Ia mengatakan dirinya menjual produk kerjinannya melalui ofline dan online. Strategi pemasaran ini sangat memudahkan pembeli untuk memilih produk kerajinannya.

Lebih lanjut, Ratri mengatakan pasar sangat merespon baik, produk kerajinannya. Namun, dirinya belum menyanggupi pesanan dalam jumlah besar. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan jumlah tenaga kerja trampil dan modal.

"Kami sangat kualahan memenuhi permintaan dalam jumlah banyak. Saat ini, jumlah pekerja hanya ibu rumah tangga sebanyak 20 orang. Membuat kerajinan tas ini, hanya pekerjaan sampingan saja," kata dia.

Dia mengatakan untuk menghasilkan satu tas nilon membutuhkan waktu dua-tiga hari. Proses hingga menjadi tas siap jual selama tujuh hari. Harga tas yang ditawarkan mulai Rp150 ribu hingga Rp300 ribu per pieces.

"Upah pembuatan tas berkisar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu tergantung pada tingkat kesulitan dan motifnya," kata dia.

Salah satu perajin tas dari agel Desa Tuksono Sorti mengatakan produk kerajinan dari agel sekarang hampir stagnan. Sebab, perajin saling bersaing harga yang tidak sehat. Akibatnya, banyak perajin agel yang gulung tikar.

"Kerajinan agel banyak berkembang di Desa Tuksono. Harga sangat bersaing. Akibatnya persaingan tidak sehat, dan banyak perajin yang gulung tikar," katanya.(KR-STR)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026