Logo Header Antaranews Jogja

BLH Yogyakarta optimistis target 2016 tercapai

Senin, 10 November 2014 15:24 WIB
Image Print
Ilustrasi bank sampah (agendajogja.com)

Yogyakarta (Antara Jogja) - Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta optimistis target 2016 yaitu satu bank sampah di tiap rukun warga tercapai meskipun hingga saat ini baru sekitar 50 persen rukun warga yang memilikinya.

"Target optimistis dapat dicapai, karena masyarakat tentunya tidak ingin hidup di tengah sampah. Bank sampah menjadi salah satu upaya penyadaran dan edukasi kepada masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah tangga," kata Kepala Sub Bidang Daur Ulang Sampah Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta Faizah di Yogyakarta, Senin.

Berdasarkan data BLH, hingga akhir Juni sudah ada 315 bank sampah yang dimiliki rukun warga (RW) di Kota Yogyakarta. Di Yogyakarta terdapat 614 RW. "Dimungkinkan hingga saat ini sudah ada penambahan, hanya kami belum sempat memutakhirkan datanya," katanya.

Faizah menekankan pentingnya pengolahan sampah sejak dari rumah tangga sehingga sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir adalah sampah yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan kembali. Saat ini, volume sampah dari Kota Yogyakarta yang dibuang ke tempat pembuangan akhir mencapai 240 ton per hari.

Sampah anorganik seperti plastik, botol dan kertas dapat dikumpulkan dan kemudian "ditabung" di bank sampah, sedangkan untuk sampah organik dapat dengan mudah diolah menjadi kompos yang bisa langsung dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Hanya saja, lanjut dia, kesadaran masyarakat untuk ikut ambil bagian mengembangkan bank sampah masih perlu terus ditingkatkan. "Memang sudah ada RW yang seluruh warganya menjadi nasabah bank sampah. Namun, banyak juga bank sampah yang nasabahnya hanya separuh dari total warga yang ada di wilayah," katanya.

Oleh karena itu, Fauziah mengatakan, perlu dilakukan inovasi untuk memacu semangat masyarakat mendirikan atau menjadi nasabah bank sampah, di antaranya menabung sampah untuk berbagai keperluan.

"Ada wilayah yang menabung sampah dengan tujuan rekreasi ke tempat wisata tertentu. Mereka mengumpulkan sampah untuk dijual ke pengepul. Hasil penjualan tersebut ditabung untuk biaya piknik atau diputar kembali menjadi dana simpan pinjam," katanya.

BLH Kota Yogyakarta juga menggelar lomba bank sampah untuk meningkatkan motivasi warga mengembangkan bank sampah di wilayah masing-masing.

Saat ini, lanjut dia, BLH Kota Yogyakarta juga tengah menyiapkan semacam bank sentral sampah yang berlokasi di Nitikan. Bank tersebut akan menampung barang-barang yang tidak laku dijual di pengepul. "Rencananya, 2015 sudah bisa dioperasikan," katanya.

Sejumlah sampah anorganik yang saat ini sulit laku di antaranya adalah plastik kresek dan botol kaca ukuran kecil.

Sementara itu, Inisiator bank sampah di Kota Yogyakarta Bambang Suwerda mengatakan, keberadaan bank sampah tersebut ditujukan untuk mengubah pandangan negatif masyarakat terhadap bak sampah.

Namun demikian, Bambang mengingatkan, agar keberadaan bank sampah tersebut dapat tumbuh dengan baik maka diperlukan satu sistem manajemen pengelolaan yang terpadu.

"Kami bersama forum bank sampah sudah mengajukan konsep ke Pemerintah Kota Yogyakarta tentang pedoman pengelolan bank sampah sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012," katanya.

(E013)



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026