
Disbubpar Sleman yakin wisata Gunung Merapi bertahan

Sleman (Antara) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, meyakini objek wisata Gunung Merapi di Kecamatan Cangkringan akan tetap bertahan sebagai destinasi unggulan.
"Memang ada keluhan dari masyarakat setempat selaku pengelola `volcano tour` karena kerusakan infrastruktur di lokasi tersebut. Namun kami optimistis masih akan tetap bertahan dan tidak akan mati," kata Kepala Disbudpar Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi, Rabu.
Menurut dia, mengenai fasilitas umum berupa akses jalan, merupakan kewenangan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan.
"Tetapi karena wilayah lokasi wisata gunungg api itu berada di kawasan rawan bencana (KRB) III, maka saat ini memang kebijakannya tidak ada perbaikan jalan dan infrastruktur di tempat tersebut," katanya.
Ia mengatakan, meski demikian ada baiknya jika sekadar untuk perawatan, seharusnya bisa dilakukan, meski itu masuk daerah KRB I, II, ataupun III.
"Selama ini kami hanya sebatas melakukan pendampingan wisata saja kepada kelompok-kelompok sadar wisata setempat," katanya.
Ayu mengatakan, pendampingan dan pembinaan tersebut lebih dimaksudkan agar masyarakat sebagai pengelola selalu memberikan kenyamanan kepada pengunjung, salah satunya memperhatikan faktor keselamatannya ketika menggunakan jasa sewa Jeep atau motor trail.
"Kalau objek wisatanya tidak akan mati. `Volcano tour` itu wisata menjelajahi kawasan di sekitar Gunung Merapi," katanya.
Warga di Kecamatan Cangkringan, Sleman, yang menjadi pengelola wisata Volcano Tour mengeluhkan, selama ini pemasukan dari pengunjung yang didapatkan, paling banyak habis untuk perbaikan jalan.
"Perbaikan jalan yang dilakukan mulai pintu tanda pembayaran retribusi (TPR) hingga bekas rumah juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, di Kinahrejo," kata Ketua Pengelola Lava Tour Vulkano, Umbulharjo, Cangkringan,, Bagyo.
Menurut dia, tempat wisata yang banyak menarik minat pengunjung ini merupakan sumber pendapatan bagi warga korban erupsi Gunung Merapi 2010 yang saat ini direlokasi, dan tinggal di hunian tetap (huntap).
"Ini sebagai sumber penghasilan bagi warga setempat, yang tinggal di huntap. Tapi selama ini perbaikan jalan, diambil dari pemasukan tiket pengunjung", katanya.
(V001)
Pewarta : Oleh Victorianus Sat Pranyoto
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
