
DKPP miliki "PR" ubah orientasi nelayan

Kulon Progo (Antara Jogja) - Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki pekerjaan rumah untuk mempercepat perubahan orientasi nelayan setempat dari agraris ke maritim.
Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan Tangkap Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kulon Progo Prabawa Sugondo di Kulon Progo, Selasa, mengatakan nelayan Kulon Progo itu nelayan transisi dari agraris ke maritim.
"Saat harga cabai, melon, dan semangka mahal, nelayan berhenti melaut. Tapi ketika tidak ada kegiatan di ladang, mereka melaut lagi. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami," kata Prabowo.
Ia mengatakan jumlah nelayan di Kulon Progo mencapai 520 orang, termasuk pendorong perahu. Sementara itu, jumlah kapal yang dimiliki kelompok nelayan sebanyak 120 unit, tapi yang beroperasi hanya 80 unit atau 75 persen.
"Nelayan Kulon Progo masih belum profesional mengoperasikan kapal besar. Mereka hanya mengoperasionalkan kapal tempel yang daya tangkapnya sedikit," kata dia.
Prabowo mengatakan nelayan yang setiap hari melaut yakni di Jangkaran dan Karangwuni. Dua tempat ini, mayoritas nelayannya merupakan nelayan andon dari Cilacap atau Pangandaran.
"Kalau nelayan andon mesti melaut setiap hari. Hal ini karena mereka mengandalkan pendapatan dari melaut, bahkan saat gelombang tinggi tetap melaut," kata dia.
Terkait abrasi di Pantai Bugel, ia mengatakan setiap tahun kawasan pantai selatan baik di Bantul dan Kulon Progo terkena abrasi.
"Sudah menjadi karakter pantai selatan, setiap tahun ada abrasi," katanya.
Sementara itu, anggota Kelompok Nelayan Bugel Warto mengatakan kawasan Pantai Bugel terkena abrasi yang jauhnya mencapai 15 meter dari bibir pantai. Akibatnya, nelayan kesulitan menaikkan atau menurunkan kapal.
"Sebelum ada Pelabuhan Tanjung Adikarto, lahan pasir Pantai Bugel sangat luas. Tapi, sekerang tidak ada bibir pantai, pasir dihantam ombak yang tinggi. Bahkan, dimungkinkan akan mengancam perumahan nelayan," kata Warto.
Ia berharap pemerintah setempat segera mengambil langkah antiasipasi supaya abrasi tidak lebih parah. Nelayan Bugel berupaya menanam cemara udang untuk menahan abrasi.
"Abrasinya cukup parah. Kami tidak tahu melakukan apalagi. Kalau dibiarkan rumah-rumah penduduk di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bugel terancam terkena abrasi," katanya.
Warto mengatakan nelayan yang tidak melaut memilih menjadi petani. Mereka menanam melon, semangka atau cabai di lahan pasir. Bahkan, ada yang menyewa lahan di Purworejo, Bantul dan Sleman untuk ditanami melon atau semangka.
"Kami menjadi petani melon dan semangka untuk memenuhi kebutuhan keluarga," katanya.
(KR-STR)
Pewarta : Oleh Sutarmi
Editor:
Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026
