
Keluarga minta Muhammadiyah membantu mencari keberadaan Ayu

Jogja (Antara Jogja) - Keluarga dari Diah Ayu Yulianingsih warga Ngemplak, Kabupaten Sleman yang sebelumnya dikabarkan hilang karena diduga direkrut "Gafatar" (Gerakan Fajar Nusantara) menemui jajaran Pengurus Pusat Muhammadiyah untuk meminta dukungan mencari ibu rumah tangga itu.
Kedatangan keluarga Diah Ayu Yulianingsih (28) yang diwakili Muhammad Na`im, paman Ayu, diterima langsung Ketua Bidang Hukum PP Muhammadiyah, Busyro Muqoddas di ruang pertemuan kantor PP Muhammadiyah di Jalan Cik Ditiro, Yogyakarta, Selasa.
"Kami melapor kepada PP Muhammadiyah dengan harapan kami bisa mendapatkan dukungan secara moral untuk mencari keberadaan Ayu," kata Muhammad Na`im, paman dari Diah Ayu.
Menurut Naim, dalam upaya mencari Ayu yang hilang sejak 11 Desember 2015, pihaknya telah menempuh berbagai upaya formal dengan melapor ke Kepolisian Resor Kabupaten Sleman, Polda DIY, serta mencari informasi ke Polda Kalimantan Barat sejak 12 Desember 2015.
Namun, demikian hingga kini belum membuahkan hasil mengenai keberadaan Ayu yang hilang beserta anaknya, Raina (2).
"Sehingga mudah-mudahan hal yang tidak bisa ditembus secara praktis dapat ditembus dengan cara Muhammadiyah," kata Naim yang juga guru besar Fakultas Pertanian UGM itu.
Naim mengatakan kronologi hilangnya keponakannya tersebut mirip dengan kasus hilangnya dokter Rica Tri Handayani yang sebelumnya juga diduga direkrut oleh kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang bertransformasi menjadi Negara Karunia Allah (NKA) yang diperkirakan bermarkas di Kalimantan Barat.
"Modus operandinya nampaknya sama. Dijemput dua orang, di bawa entah ke mana lalu meninggalkan surat," tutur dia.
Menurut Naim, sebelum menghilang, pada 11 Desember sekitar pukul 10.00 WIB Ayu dengan menggendong anaknya, Raina, sempat berpamitan dengan keluarga untuk mengunjungi acara pernikahan temannya.
Ayu juga mengaku setelah itu akan berziarah ke makam almarhum suaminya di Sleman yang meninggal dunia tiga bulan sebelum ia menghilang.
"Namun, setelah itu ponselnya tidak bisa dihubungi lagi sampai sekarang," ungkanya.
Seperti halnya dokter Rica, Ayu juga sempat mengirim pesan singkat kepada keluarga pada 13 Desember 2015 yang isinya memberitahukan kondisinya dalam keadaan baik.
Ayu juga meminta agar keluarga tidak perlu mencari karena dirinya mengaku akan kembali. "Tapi kami curiga karena gaya bahasanya berbeda dengan kebiasan Ayu," ucapnya.
Menurut dia kepergian Ayu sangat terencana, sebab beberapa hari sebelum pergi Ayu diperkirakan membawa barang-barangnya keluar rumah secara bertahap. "Sehingga setelah dia tidak ada, kami mengecek barang-barang di rumahnya sudah tidak ada," tambahnya.
Menurut Na`im, saat kuliah Ayu memang sempat dikabarkan aktif dalam organisasi Gafatar Yogyakarta. Meski sempat berhenti setelah menikah, ia menduga komunikasi dengan organisasi itu kembali terjalin setelah suaminya meninggal dunia.
Ketua Bidang Hukum PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas mengatakan akan segera membentuk tim untuk mencari keberadaan Ayu. Tim yang akan dimotori Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah itu dalam waktu dekat akan melakukan pemetaan informasi, bekerja sama dengan aparat kepolisian. "Jaring Muhammadiyah di Kalimantan nanti juga akan kami hubungi," kata Busyro.
Busyro juga berharap Polda DIY dapat mengulang kesuksesannya setelah berhasil menemukan dokter Rica Tri Handayani pada Senin (11/1) di di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
"Kami mengapresiasi Polda DIY yang sukses memenukan dokter Rica. Kami berharap bisa ditingkatkan ke Ibu Diah Ayu Yulianingsih dengan anaknya," tutur Busyro.
(L007)
Pewarta : Luqman Hakim
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
