Logo Header Antaranews Jogja

BUMN Gula akan perkuat hilirisasi produk tebu

Jumat, 18 Maret 2016 22:21 WIB
Image Print
Petani tebu (Foto antaranews.com)

Yogyakarta, (Antara Jogja) - Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di sektor pergulaan akan memperkuat hilirisasi produk tebu nongula dengan memproduksi bioethanol dari tetes tebu dan pembangkit listrik melalui program cogeneration berbasis ampas tebu.

"Hilirisasi ini penting bukan saja karena aspek ekonomi, tapi juga bagian dari peningkatan kinerja pabrik gula," kata Koordinator Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gula Subiyono di Yogyakarta, Jumat.

Subiyono mengatakan saat ini seluruh pabrik gula di dunia telah menggarap produk hilir baik berupa listrik maupun bioethanol, mulai dari pabrik gula di Brasil, Thailand, Vietnam, India, hingga Australia.

Sebagai langkah revitalisasi industri gula nasional, menurut dia, pabrik gula yang ada di bawah naungan BUMN akan turut menggarap sektor industri hilir tersebut. "Di Indonesia saat ini baru satu pabrik yang punya bisnis bioetanol yaitu Pabrik Gula (PG) Gempolkrep di Mojokertp," kata dia.

Menurut dia, pada 2019 PG BUMN menargetkan akan memiliki 8 pabrik bioethanol dengan kapasitas total sebesar 660 KLPD. Sementara pembangkit listrik melalui program cogeneration berbasis ampas tebu akan dilakukan di 12 lokasi dengan kapasitas total sebesar 118 megawatt (MW).

Menurut Subiyono, saat ini operasional pabrik gula relatif tidak ekonomis. Hal itu, menurut dia, disebabkan antara lain karena belum terciptanya nilai tambah pada produk sampingan seperti tetes tebu atau ampas yang dapat diolah menjadi produk hilir bernilai tinggi.

Padahal, ia mengatakan, pabrik gula nasional sedang dihadapkan pada tingginya biaya raw material (tebu), biaya input (bahan kimia dan lain-lain), dan biaya tenaga kerja.

"Sebagai konsekuensinya, biaya produksi menjadi tinggi dan pabrik gula milik PTPN dalam banyak kasus belum mampu menghasilkan keuntungan dalam jumlah yang bisa digunakan untuk ekspansi secara signifikan," kata dia.

Sementara itu, ia mengatakan, di sisi lain PG BUMN juga akan menargetkan produksi gula mencapai 3,26 juta ton pada 2019. Target itu mengalami kenaikan dua kali lipat dibandingkan produksi gula pada 2015 yang mencapai 1,45 juta ton.

Untuk mewujudkan target tersebut, PG BUMN akan melakukan investasi secara berkelanjutan baik untuk sektor budi daya maupun pabrik.

Investasi di sektor budi daya dilakukan untuk mekanisasi, pengembangan varietas unggul, pembangunan sarana irigasi, dan peningkatan kualitas budidaya. Adapun di sektor pabrik, dilakukan peningkatan kapasitas pabrik baik melalui up-grade di pabrik yang sudah ada maupun pembangunan pabrik baru, peningkatan kualitas produk, efisiensi, otomatisasi, dan elektrifikasi.

Investasi yang ditanamkan seluruh PG BUMN secara berkelanjutan sejak 2015 hingga 2019, menurut dia, akan mencapai Rp 22,3 triliun terdiri atas Rp 5,23 triliun di bidang on-farm (perkebunan) dan Rp 17,15 triliun di bidang off-farm (pabrik). Sebagian dari dana itu diharapkan akan didapatkan dari penyertaan modal negara (PMN) dari pemerintah melalui holding BUMN perkebunan. ***3***

(L007)



Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026