Logo Header Antaranews Jogja

Pemkab Kulon Progo bantu petani pasarkan teh

Minggu, 6 Agustus 2017 19:13 WIB
Image Print
ilustrasi (Foto nukay81.blogspot.com)

Kulon Progo (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan membantu pemasaran produk teh Samigaluh dalam rangka menggerakan perekonomian petani teh di wilayah itu.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Widi Astuti di Kulon Progo, Minggu, mengatakan Pemkab Kulon Progo melalui Dinas Pertanian dan Pangan berkomitmen membantu petani teh, supaya Kulon Progo menjadi produsen teh di wilayah DIY.

"Kami akan membantu pemasaran produk teh Samigaluh dengan menjualnya di lingkungan PNS dan kerja sama dengan BUMD dan toko milik rakyat (tomira) yang telah bekerja sama dengan pemkab," kata Widi.

Sementara ini, kata Widi, sasaran penjualan teh Samigaluh masih pasar lokal. Selain itu, pihaknya berupaya membantu petani meningkatkan mutu teh supaya mudah diterima pasar di luar Kulon Progo.

"Bersaing dengan produk teh yang sudah ada di pasaran itu bukan persoalan mudah. Untuk itu, kami mendampingi petani teh meningkatkan mutu produk supaya mudah diterima masyarakat luas," katanya.

Saat ini, produk teh Samigaluh dipasarkan di objek-objek wisata di kawasan Bukit Menoreh, seperti Kebun Teh Ngliggo-Tritis dan Puncak Suroloyo. Pelaku wisata menjual di kedai-kedai mereka yang dikemas sedemikian rupa, sehingga wisatawan menikmati teh asli Kulon Progo.

"Petani teh mulai menjual produk mereka dengan dipasarkan di objek-objek wisata di Bukit Menoreh. Cara ini sangat ampuh menjual teh mereka supaya dikenal masyarakat umum, khususnya pecinta teh," kata dia.

Salah satu petani teh Samigaluh Sukohadi mengatakan dirinya memproduksi teh dengan berbagai rasa seperti teh pegagan, ada teh wangi, ada teh sangit, ada lagi yang namanya teh putih.

Ia mengatakan salah satu yang menarik dari berbagai produk teh rakyat tersebut adalah "teh sangit" serta teh yang disebut teh putih. Dua teh ini bahan dan penanganannya cukup rumit dan eksklusif, baik bahan maupun cara mengolahnya.

Menurut dia, teh putih memang warnanya putih, warna asli pucuk teh. Untuk mengeringkannya tidak tersebut apa panas sedikitpun. Sehingga khasiat pucuk tehnya utuh lengkap.

"Teh putih ini, kami memetiknya harus sebelum matahari bersinar. Setelah Subuh, kami lakukan pemetikan paling setengah jam hingga satu jam. Kalau sampai kena sinar matahari khasiatnya jadi beda," katanya.

Sukohadi mengatakan untuk mengeringkan teh putih, hanya dengan diangin-anginkan saja, tidak dengan panas api. Aturan itu dijaga ketat. Teh putih ini disedu untuk minuman istimewa. Di Bali harganya Rp3,5 juta perkilogram. Konsumennya kebanyakan orang asing.

"Kalau untuk "teh sangit", kami gunakan pucuk dua hingga tiga lembar. Mengolahnya kami keringkan dengan "sangan". Dikeringkan di atas tempayan tanah yang dipanasi api di bawah," kata dia.
KR-STR



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026