
Mayoritas warga Bantul manfaatkan rumah potong hewan

Bantul, (Antara Jogja) - Mayoritas warga maupun pengusaha daging Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta telah memanfaatkan Rumah Potong Hewan Segoroyoso dalam melakukan pemotongan ternak untuk kemudian diambil dagingnya.
"Tiap hari di RPH (Rumah Potong Hewan) Segoroyoso memotong sekitar 15 sampai 20 sapi, dan yang sudah ke sini memakai jasa RPH sudah sekitar 80 persen," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) RPH Segoroyoso Rusdi Harminta di Bantul, Jumat.
Menurut dia, mayoritas warga atau pengusaha daging telah memanfaatkan RPH Segoroyoso itu karena sekarang ini sudah ada aturan terbaru mengenai bahwa daging yang diedarkan haruslah berasal dari dari proses pemotongan yang baik dan sesuai persyaratan.
Ia mengatakan, apalagi daging sapi yang dihasilkan dari pengusaha Bantul juga beredar di pasar daerah lain seperti Yogyakarta, sehingga kalau tidak dilengkapi dengan bukti pemotongan hewan yang sesuai daging tidak diterima pasar.
"Yang dipotong di sini sudah dibuktikan dengan surat kesehatan, karena sebelumnya diperiksa petugas terlebih dulu.
Jadi prosedur kalau mau masuk ke kota ada pemeriksaan daging, kalau tidak bawa surat ditolak kota," katanya.
Ia menyebut sudah ada beberapa pengusaha daging yang kedapatan tidak membawa surat kesehatan daging saat masuk kota, hal itu karena hewan tidak dipotong melalui RPH milik organisasi perangkat daerah (OPD) terkait di Bantul ini.
"Jadi imbauan kami manfaatkanlah RPH untuk pemotongan hewan, karena selain terjamin kualitas juga kebersihan dagingnya. Karena daging yang dipotong di sini begitu selesai sudah terpisah dengan jeroan-jeroan," katanya.
Pihaknya berharap, di Bantul yang merupakan sentra ternak sapi terus memanfaatkan RPH Segoroyoso dan pengusaha atau warga sebisa mungkin mengurangi pemotongan sapi di rumah tanpa pendampingan petugas atau punya keahlian sendiri.
"Karena apa? Kalau motong di rumah itu sulit pengawasan terutama penyakit hewan menular, misalnya antraks. Penyakit itu kan kita tidak tahu kalau tidak ada pemeriksaan dulu saat masih hidup. Kita tidak ingin daging yang dikonsumsi tidak layak," katanya.
(T.KR-HRI)
Pewarta : Heri Sidik
Editor:
Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
