Penerima bantuan L-OTA diingatkan tidak membeli pulsa

id kota yogyakarta

Pemkot Yogyakarta (Foto Istimewa)

Yogyakarta (Antara Jogja) - Seribuan pelajar dari jenjang SD, SMP, hingga SMA atau sederajat di Kota Yogyakarta penerima bantuan Lembaga Orang Tua Asuh (L-OTA) diingatkan tidak memanfaatkan bantuan untuk membeli pulsa.

"Bantuan harus dimanfaatkan untuk membiayai kebutuhan sekolah, misalnya membeli tas sekolah, buku, seragam atau sepatu dan alat-alat tulis," kata Ketua Lembaga Orang Tua Asuh Kota Yogyakarta Tri Kirana Muslidatun di sela penyaluran bantuan di Yogyakarta, Selasa.

Bantuan L-OTA itu tidak boleh digunakan untuk membeli pulsa, dan tidak boleh digunakan untuk belanja kebutuhan sehari-hari, tambahnya.

Pada tahun ini, terdapat 371 pelajar dari jenjang SD, SMP dan SMA di Kota Yogyakarta yang memperoleh bantuan dari Lembaga Orang Tua Asuh (L-OTA) tingkat DIY ditambah 921 pelajar SD dan SMP atau sederajat di Kota Yogyakarta yang menerima bantuan L-OTA tingkat Kota Yogyakarta.

Total bantuan L-OTA DIY yang disalurkan untuk pelajar di Kota Yogyakarta mencapai Rp41,2 juta. Bantuan diberikan kepada 283 siswa SD dengan nilai Rp120.000 per anak, 14 siswa SMP dengan nilai Rp180.000 per anak dan kepada 20 siswa SMA dengan besaran Rp240.000 per anak.

Sedangkan total bantuan yang disalurkan oleh L-OTA Kota Yogyakarta mencapai Rp127,3 juta yang diberikan kepada 640 siswa SD dengan bantuan Rp120.000 per anak dan 281 siswa SMP dengan nilai bantuan Rp180.000 per anak.

Menurut Tri Kirana, total bantuan L-OTA Kota Yogyakarta yang sudah disalurkan sejak 2013 hingga tahun ini mencapai Rp469,6 juta. Pada 2013, bantuan yang disalurkan mencapai Rp163,2 juta; 2014 mencapai Rp96,8 juta; dan 2015 mencapai Rp91,8 juta.

"Kami tidak menyalurkan bantuan pada 2016 karena bertepatan dengan tahun politik atau menjelang penyelenggaraan pemilihan kepala daerah," katanya.

Tri tidak menampik jika bantuan yang diberikan oleh L-OTA belum menjangkau seluruh siswa dari keluarga miskin di Kota Yogyakarta. "Bantuan baru menyasar sekitar 75 persen siswa miskin. Penerima bantuan pun selalu berbeda dari tahun ke tahun," katanya.

Bantuan, lanjut dia, diprioritaskan bagi pelajar dari keluarga miskin Kota Yogyakarta pemegang kartu menuju sejahtera (KMS). Namun, jika kuota masih memungkinkan akan ditambah dengan pelajar dari keluarga miskin yang tidak menerima KMS.

"Sekolah bisa mengusulkan apabila ada pelajar yang membutuhkan bantuan dari L-OTA," katanya.

Ia pun berharap, keterlibatan dunia usaha atau peran sektor swasta untuk mendukung pengembangan pendidikan dengan menjadi pendonor L-OTA dapat terus ditingkatkan.

"Kami berharap, ada peningkatan peran swasta atau dari pengusaha. Semakin banyak akan semakin baik karena pelajar yang membutuhkan juga masih cukup banyak," kata Tri.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Titik Sulastri mengatakan, penyaluran bantuan L-OTA merupakan salah satu upaya untuk memberikan perhatian lebih kepada dunia pendidikan.

"Yogyakarta merupakan kota pelajar. Di satu sisi sangat membanggakan, namun juga disertai dengan tanggung jawab untuk mempertahankannya. Predikat ini tidak boleh lepas dari Kota Yogyakarta," katanya.

(E013)
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar