Logo Header Antaranews Jogja

Hastin kreasikan daun sebagai motif batik alami

Kamis, 21 Desember 2017 19:05 WIB
Image Print
Batik jumput (Foto Istimewa) (istimewa)

Sleman, (Antara Jogja) - Warga Padukuhan Jangkang, Nogotirto, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Hastin Sholikhah (27) mengembangkan seni batik alami dengan memadukan motif-motif daun-daun pewarna alami yang disusun dalam kain.

"Kain batik produksi saya ini memang semuanya memakai latar belakan motif daun-daun pewarna alami," kata Hastin di Sleman, Kamis.

Menurut dia, motif taburan daun itu dibuat menggunakan berbagai jenis daun asli yang masih segar yang kemudian ditata dalam sebuah kain putih.

"Setelah ditata dan ditempel pada kain, kemudian digulung dan dipanaskan dengan uap air mendidih agar warna dan motif daun menempel pada kain dan membentuk pola yang indah," katanya.

Ide usaha kreatif Hastin alumnus Jurusan Tekstil Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tersebut diberi nama?Kaine telah dirintisnya sejak Januari 2017.

"Ini merupakan teknik?`eco print`?batik yaitu teknik pengolahan kain menggunakan perwarna alami, tidak menggunakan kimia. Motifnya natural yaitu daun-daunan, batang daun dan bunga-bunga," katanya.

Ia mengatakan, ide menggunakan teknik?"eco print"?ini dipilih karena pewarna kimia dapat mencemari air tanah, terlebih lingkungan sekitar rumahnya merupakan persawahan dan kolam ikan.

"Pewarna kimia limbahnya bisa terserap ke sawah dan berpengaruh pada air tanah di sekitar tempat tinggal saya," katanya.

Menurut dia, ada berbagai jenis daun digunakan untuk motif batik produknya. Sebut saja daun jati, jarak, ketapang, ekor kucing, daun lanang, kulit bawang bombai,? kunyit dan secang.

"Tahun ini penelitiannya daun-daun yang digunakan masih terus berkembang. Yaitu daun muda yang pigmennya belum hilang. Kainnya harus berserat, seperti sutera, agar bisa menempel warnanya," katanya.

Ia mengatakan, daun-daun yang digunakan juga mudah diperoleh dari lingkungan sekitar.

"Di sini masih desa, jadi masih banyak bahan baku daun untuk motif batik," katanya.

Hastin mengatakan, proses awal pembuatan batik dimulai dari menghilangkan kanji yang ada di kain dengan cara direndam pakai tawas. Setelah itu mengumpulkan daun untuk ditata di lembaran kain, digulung dan pres kain tersebut agar warna daun keluar.

"Setelah itu baru dilanjutkan pengukusan atau perebusan selama dua jam. Perebusan atau pengukusan sekitar satu sampai dua ?jam terus? didiamkan semalam baru kemudian bisa dibuka kainnya untuk mengambil daun-daunnya," katanya.

Hastin mengatakan, kain-kain batik yang dihasilkan ada yang dijual langsung maupun dijahit terlebih dahulu.

"Kain batik produksi saya ini dijual Rp400 ribu per 2,5 meter, sementara kerudung sutera dijual Rp100 ribu dan Rp400 ribu dan juga dipasarkan via?online," katanya.

Hastin rutin mengikuti pameran yang digelar Disperindag Sleman. Bahkan kainnya pernah digunakan di event Jogja Fashion Week (JFW) beberapa waktu lalu.

"Pameran merupakan salah satu cara bertemu dengan konsumen. Jadi ikut di Dinas Perindustrian dan Perdagangan, itu suka ada fasilitas pameran.?Dari situ saya juga mendapatkan?customer," katanya.

Hastin memilih media sosial Instagram untuk memperluas pangsa pasarnya. Melalui kedua model pemasaran ini, konsumen tersebar tidak hanya di Indonesia tetapi hingga luar negeri seperti Singapura dan Jepang.

"Omzet saat ini sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta per bulan. Omzet ini bisa bertambah apabila mengikuti pameran. Sebab menambah stok produksinya tidak hanya 20 kain," katanya.

(U.V001)



Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026