Konsultan PCC: kanker darah bisa sulit dideteksi

id kanker darah

Konsultan Senior Hematologi Parkway Cancer Center (PCC) Dr Colin Phipps Diong (tengah) dan Manajer dan Ahli Diet Senior PCC Fahma Sunarja (kanan) (foto istimewa)

Yogyakarta (ANTARA) - Kanker darah bisa sulit dideteksi dan didiagnosis pada pasien tanpa gejala apa pun, meskipun mungkin tidak selalu demikian, kata Konsultan Senior Hematologi Parkway Cancer Center (PCC) Dr Colin Phipps Diong.

"Beberapa pasien mungkin memiliki gejala seperti demam jangka panjang, basah kuyup, kelelahan, berkeringat di malam hari, penurunan berat badan secara signifikan yang tidak diinginkan, dan kadang-kadang pembengkakan kelenjar getah bening," katanya di Yogyakarta, Kamis.

Pada diskusi bertema kanker darah, Colin mengatakan jika ada gejala-gejala seperti itu segera konsultasikan dengan dokter.  Dokter kemudian akan melakukan tes yang lebih komprehensif, termasuk biopsi sumsum tulang, untuk mengkonfirmasi diagnosis apakah pasien tersebut menderita kanker darah.

Dalam banyak kasus, kata dia, pasien terlambat mengetahui bahwa mereka menderita kanker darah. Seringkali, mereka melakukannya secara tidak sengaja ketika mereka menjalani pemeriksaan kesehatan rutin untuk memeriksa penyakit lain.

"Faktor yang berkontribusi adalah kurangnya pemahaman tentang kanker darah dan gejalanya, serta kebutuhan untuk melakukan pemeriksaan medis rutin termasuk memeriksa jumlah darah lengkap," katanya.

Hasil dari survei Global Cancer Observatory (Globocan) 2018 menyebutkan kanker darah menempati urutan ke-9 dalam jumlah kasus kanker terbesar di Indonesia.

Ia mengatakan salah satu pilihan perawatan yang paling efektif untuk kanker darah adalah transplantasi sumsum tulang atau dikenal sebagai transplantasi sel induk alogenik.

Transplantasi sel induk alogenik adalah proses yang melibatkan pengambilan sel-sel sumsum tulang yang sehat dari donor dan memasukkannya ke pasien dengan kanker darah.

"Pasien dapat memperoleh sel punca dari donor yang tidak berhubungan atau bahkan mendapatkan sel punca hemotopoetic (HSC) dari darah tali pusat yang disimpan di bank darah tali pusat," kata Colin.

Sementara itu, Manajer dan Ahli Diet Senior PCC Fahma Sunarja mengatakan penelitian telah menunjukkan bahwa pendekatan tim multidisiplin mengarah ke hasil pengobatan terbaik pada pasien kanker.

Untuk menentukan perawatan yang optimal setiap pasien, menurut dia, PCC mengambil pendekatan multidisiplin yang melibatkan kolaborasi berbagai spesialis medis untuk memberikan diagnosis yang cepat dan akurat bagi pasien.

"Melalui keahlian kolektif para ahli onkologi dan tim multidisiplin profesional paramedis, kami berdedikasi untuk membantu pasien lebih memahami kanker, pilihan perawatannya, dan yang paling penting, memberikan perawatan medis terbaik," kata Fahma.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar