Mesir ajarkan cinta dan pernikahan untuk tekan perceraian

id mesir

Mesir ajarkan cinta dan pernikahan untuk tekan perceraian

Dua mahasiswa melakukan sebuah sandiwara di Cairo University tentang pasangan suami-istri sedang berargumen sebagai bagian dari proyek pemerintah ditujukan untuk mengurangi angka perceraian Mesir, di Kairo, Mesir 18 April, 2019. Gambar diambil pada April 18, 2019. REUTERS/Lena Masri (reuters.com)

Kairo (ANTARA) - Dalam sebuah kelas di Cairo University, para mahasiswa tertawa saat menyaksikan teman sekelas mereka bersandiwara sebagai pasangan suami istri. Sang suami tiba di rumah setelah bekerja dan bertanya kepada sang istri, yang sedang menyapu lantai, kenapa makan malam belum siap.

"Aku menjemput anak-anak dan pergi bekerja...Apakah aku mengabaikan sesuatu hanya karena makanannya masih berada di kompor?" tanya sang istri, yang kemudian dijawab oleh sang suami: "apartemen ini seperti tempat sampah."

Sandiwara tersebut merupakan bagian dari proyek baru pemerintah yang disebut Mawadda, yang menawarkan mata kuliah tentang bagaimana cara memilih pasangan yang tepat dan bagaimana cara untuk mengatasi pertengkaran dalam pernikahan. Tujuannya untuk mencegah perceraian setelah angka perceraian mencapai lebih dari 198,000 pada  2017, naik 3,2 persen lebih besar dari 2016.

Mawadda, yang artinya kasih sayang, sedang dalam tahap percobaan, tetapi tujuannya menarget 800,000 anak muda setiap tahun dimulai pada 2020 dan pada akhirnya akan menjadi mata kuliah yang wajib diambil oleh mahasiswa untuk lulus kuliah.

Setelah menyaksikan sandiwara tersebut, beberapa mahasiswa dan dosen menunjukkan bahwa sang suami seharusnya melakukan lebih banyak pekerjaan rumah tangga.

"Bukan keharusan bagi sang istri untuk melakukan semua hal," kata Salah Ahmed, dosen mata kuliah  tersebut, dan menambahkan bahwa Nabi Muhammad SAW dulunya sering membantu istrinya dalam semua pekerjaan dan beliau patut menjadi contoh.

Namun dia juga berkata bahwa sang istri seharusnya lebih pengertian dan berusaha  terlihat baik bagi suaminya daripada menyambutnya dengan menyapu lantai.

Julia Gosef, seorang mahasiswa berumur 23 tahun yang menghadiri kelas tersebut bersama tunanganya, mengatakan khawatir jika kesulitan ekonomi di Mesir dapat merusak pernikahannya. Pasangan tersebut tidak dapat bergantung pada satu penghasilan sehingga dia juga terpaksa berkerja, yang dapat menimbulkan pertengkaran mirip dengan sandiwara tersebut, katanya.

"Mungkin saya tidak bisa menjaga rumah kami dengan benar," katanya seperti dikutip reuters.

Pelajaran-pelajaran dari Mawadda akan disertai dengan video-video Youtube, sebuah program radio dan drama pendidikan. Gereja dan otoritas Muslim Sunni tertinggi Mesir, Al-azhar  merupakan mitra.

"Jika kita ingin menyelesaikan masalah dari akarnya, kita perlu menarget orang-orang sebelum mereka menikah," kata Amr Othman, manajer dari Mawadda di Kementerian Solidaritas Sosial.

Dia menambahkan bahwa di Mesir ada hubungan antara perceraian dan masalah-masalah seperti anak-anak tunawisma dan kecanduan narkoba.

Dalam konferensi anak-anak muda pada Juli, Presiden Abdel Fattah al-Sisi mengatakan perceraian dan perpisahan berarti jutaan anak-anak Mesir hidup hanya memiliki satu orang tua.

Islam mengizinkan laki-laki untuk mengakhiri pernikahan mereka secara lisan, hanya dengan mengatakan kepada istri mereka bahwa mereka menceraikan istri mereka.

Sisi mengatakan ingin mengakhiri praktik tersebut di Mesir karena angka perceraian sudah terlalu tinggi.

Proyek Mawadda diluncurkan sebagai tanggapan atas keprihatinan Sisi, kata para pejabat.

Hal itu merupakan bagian dari upaya Sisi untuk mendorong perubahan sosial.

"Dia patriarkal dan dia berbicara kepada orang-orang Mesir seolah-olah dia adalah ayah mereka," Barak Barfi, rekan peneliti di New America, sebuah Wadah pemikir bermarkas di Washington, mengatakan tentang Sisi. "Itu (Mawadda) mencerminkan kepercayaannya bahwa perubahan dapat dimulai dari atas dibandingkan dari tingkat bawah akar rumput."

Adhab al-Hosseiny, 26, yang memainkan peran suami di sandiwara tersebut, mengharapkan untuk segera menikah.

Dia juga khawatir terhadap kesulitan ekonomi yang dapat menimbulkan pertengkaran antara dia dengan istri masa depannya.

"Yang mungkin menimbulkan masalah setelah saya menikah adalah tekanan dari luar," katanya. "Jika ada masalah uang terkait dengan biaya sekolah dan makanan.... semua hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi mental saya."


 
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar